Showing posts with label rumah tangga. Show all posts
Showing posts with label rumah tangga. Show all posts

Thursday, May 29, 2014

Menciptakan Suasana Mesra lewat Saling Mengampuni.

Dalam kehidupan rumah tangga, kita sadar betul bahwa tidak ada rumah tangga yang sepanjang hari selalu damai dan tentram.  Sebetulnya kehidupan berkeluarga ditandai oleh suasana ribut mau pun suasana damai.  Biar bagaimana pun rukunnya keluarga, bukankah dalam kenyataannya terjadi juga keributan?  Mana ada suami dan istri, adik dan kakak yang tidak bernah bertengkar! Atau anak dan orang tua yang tidak pernah bertikai.  Realistisnya kerukunan dan keributan merupakan warna perjalanan hidup dalam rumah tangga. Mengapa dalam rumah tangga yang saling mencintai sekali pun dapat terjadi keributan?  Penyebabnya  tentu berbeda-beda.  Ada karena miskomunikasi, salah mengerti, salah persepsi, salah bicara dan masih banyak penyebab lainnya karena manusia memang tidak sempurna.  Keributan rentan terjadi di dalam satu keluarga atau dalam satu komunitas yang saling bersosialisasi.   Hidup rukun  adalah merupakan dambaan dari setiap orang.  Pertanyaannya bagaimana menciptakan suasana mesra atau rukun dalam rumah tangga?

Untuk menciptakan suasana mesra dalam rumah tangga kita  perlu menyadari arti sebuah pengampunanMatius 18 : 21–22. “Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali. 

Pertanyaan Petrus ini dilatarbelakangi dari ayat sebelumnya yaitu Matius 18:15–20 berbicara tentang menasihati sesama.  Pada pasal ini Tuhan Yesus mengindikasikan bahwa dalam gereja  itu pasti ada cacat cela, konflik dan perbedaan. Bagi yang dewasa dan yang berwawasan luas sebaiknya memberikan nasihat dan jika mereka menerima nasihat itu dan berubah, layak untuk diterima kembali dan diampuni.  Setelah penguraian Yesus, maka serta merta Petrus  melayangkan pertanyaan pada ayat 21 tadi.  Di sini dapat dilihat bahwa Petrus sangat menyadari arti sebuah pengampunan, karena dalam gereja hampir sama keadaannya dalam rumah tangga.  Tidak ada anggota yang keseluruhannya tidak ada masalah, pertentangan, pertikaian dan pertengkaran.  Menyadari itulah  sehingga Petrus bertanya lebih jelas lagi kepada Tuhan Yesus tentang bagaimana mengampuni.

Untuk membangun rumah tangga yang mesra Anda harus menyadari arti sebuah pengampunan. Karena dalam rumah tangga yang saling bersentuhan rentan konflik, pertengkaran, dan pertikaian.  Dengan menyadari arti sebuah pengampunan ini akan mempersiapkan Anda untuk melihat atau mengerti sisi dari sebuah konflik dan Anda sudah siap dengan sejuta pengampunan.  Jika dalam suatu rumah tangga terjadi pertengkaran, maka dengan menyadari arti sebuah pengampunan ini merupakan cara untuk dapat memahami sebuah konflik yang nantinya akan  bermuara kepada pengampunan.  Jika semua konflik dan pertengkaran rumah tangga sudah bermuara kepada pengampunan maka kondisi rumah tangga itu tercipta suasana mesra.


Pengampunan yang tidak terbatas merupakan cara menghadirkan suasana mesra dalam rumah tangga.  Pertanyaan Petrus tentang mengampuni di jawab oleh Yesus di dalam ayat 22 yang memberi arti bahwa pengampunan itu tidak terbatas.  Jawaban Yesus ini kita sambut dengan ya dan amin. Logika dan alami, kebenaran jawaban ini menjawab semua masalah dalam dunia ini.  Mengapa bisa dikatakan demikian?  Karena jika pengampunan terbatas maka setiap detik manusia dalam  dunia ini akan diwarnai pertengkaran, pertikaian, perselisihan, peperangan, pembunuhnan atau pertumpahan darah.  Tidak akan ada waktu untuk menikmati hidup selain penghancuran dan pembinasaan,  dikarenakan tendensi manusia untuk melakukan kesalahan demi kesalahan sepanjang hidupnya. Pengampunan yang tidak terbatas adalah penawar dari semua kesalahan-kesalahan manusia yang pasti akan bersosialisasi satu sama lain.  Jika ditilik dari rumah tangga maka di sana pun tendensi untuk membuat kesalahan itu cukup rentan.  Jika suami mengampuni kesalahan istrinya cukup hanya 3 kali saja, maka istri pun akan mengampuni suami atau anak hanya 3 kali saja.  Setelah lewat 3 kali maka tidak ada lagi pengampunan, berarti terjadilah kehancuran rumah tangga.  Di sana tidak akan bersemayam kemesraan.

Ampunilah baik suami, istri mau pun anak-anak dengan tanpa batas. Itulah kebenaran yang sebenar-benarnya dan itu pulalah yang akan menciptakan suasana mesra dalam rumah tangga  Anda.  Mungkin Anda sudah berkali-kali mengampunia suami atau istri Anda, dan Anda sekarang berkata;  cukuplah saya mengampuninya karena saya manusia terbatas, saya bukan malaikat dan dengan berbagai alasan lainnya.  Sebetulnya alasan itu adalah alasan emosional dan jika Anda bersikukuh dengan alasan itu, kira-kira apa yang Anda dapatkan dari sikap itu.  Seyogyanya Anda menampuni keluarga dengan tidak terbatas, dengan penuh kualitas dalam arti tidak lagi mengingat-ingat apa yang diperbuatnya kepada Anda.  Pasti Anda akan dapat menyelesaikan konflik, pertengkaran dan pertikaian yang ada secepat mungkin dengan bermuara kepada kemesraan keluarga Anda sendiri.  Lakukannlah tanpa menimbang-nimbang karena itu perintah Tuhan Yesus Kristus kepada kita umat percaya untuk saling mengampuni sesama.

Dengan menyadari arti sebuah pengampunan, serta kerelaan memberi pemgampunan tanpa batas dan penuh kualitas, maka keributan, pertengkaran, pertikaian rumah tangga dapat segera diatasi hari lepas hari.  Seiring dengan teratasinya konflik maka pada saat itu pulalah suasana mesra tercipta di tengah-tengah rumah tangga Anda.  




Menciptakan Suasana Mesra Lewat Pujian.

Dengan tidak menutup mata, kita sering memperhatikan keluarga yang tercerai berai, pernikahan yang mendingin, kebekuan dalam rumah tangga.  Mengapa hal ini banyak terjadi dalam keluarga.  Penyebabnya  salah satu  adalah kritikan, intimidasi dan mempersalahkan dalam rumah tangga. Jika kritikan yang menghiasi rumah tangga setiap hari, maka dipastikan kebekuan akan tercipta di tengah-tengah rumah tangga.  Apabila kebekuan sudah terjadi, masing-masing anggota keluarga akan mencari kehangatan di luar rumah.  Suami akan mencari-cari kesibukan di kantor, istri akan keranjingan arisan, anak akan banyak kegiatan di luar rumah.  Suasana demikian adalah keretakan rumah tangga secara defakto.  Keretakan puncak adalah secara dejure yang akan dilangsungkan di Pengadilan.

Pujian dapat mencairkan kebekuan rumah tangga.  Memang pujian kelihatannya perbuatan sepele tetapi memberikan makna yang hebat di dalam hubungan.  Orang yang sukses biasanya pandai memberikan pujian; politikus, pembicara, pengusaha sering mengeluarkan kata-kata pujian.  Kalau orang hebat sering menggunakan kata pujian untuk menghangatkan hubungan mengapa tidak digunakan dalam rumah tangga Anda?  Pujian dapat menciptakan suasana mesra dalam rumah tangga Anda. Pertanyaannya bagaimana menyajikan pujian yang  bijaksana?

Untuk menciptakan suasana mesra dalam keluarga Anda, diperlukan ketrampilan memberikan pujian.  Dalam Alkitab Kidung Agung kita dapat belajar bagaimana keindahan dan suasana mesra menguasai hati mempela laki-laki dan mempelai perempuan.  Kidung Agung pasal 4 : 1–4 demikian,
“Lihatlah, cantik engkau, manisku, sungguh cantik engkau! Bagaikan merpati matamu di balik telekungmu. Rambutmu bagaikan kawanan kambing yang bergelombang turun dari pegunungan Gilead. Gigimu bagaikan kawanan domba yang baru saja dicukur, yang keluar dari tempat pembasuhan, yang beranak kembar semuanya, yang tak beranak tak ada. Bagaikan seutas pita kirmizi bibirmu, dan elok mulutmu. Bagaikan belahan buah delima pelipismu di balik telekungmu. Lehermu seperti menara Daud, dibangun untuk menyimpan senjata. Seribu perisai tergantung padanya dan gada para pahlawan semuanya. Seperti dua anak rusa buah dadamu, seperti anak kembar kijang yang tengah makan rumput di tengah-tengah bunga bakung.”
Perhatikan bagaimana ketrampilan Salomo dalam menyajikan pujian kepada istri pertamanya. Salomo mengungkapkan kekagumannya yaitu berupa kecantikan fisik dan kepribadian sang istri.  Kepribadiannya di puji dengan berkata, bagaikan merpati matamu di balik telekungmu.  Dalam budaya  dunia  Timur kuno, merpati adalah lambang ketenangan dan kedamaian. Jadi kata ini,   menunjukkan bahwa sang mempelai perempuan adalah seorang pribadi yang tenang, dan pendamai.   Salomo trampil dalam menyajikan pujian, dia tidak hanya memuji kecantikannya, tetapi memuji kepribadiannya juga.
Apabila ketrampilan Salomo ini menjadi ketrampilan  pasangan Anda, pastilah suasana rumah tangga Anda akan terasa hangat dan bergairah.  Suasana cinta mula-mula bersemi kembali, yang mengusir  kesepian, dingin, kegersangan, kebencian dan perasaan-perasaan negatif lainnya.
Pertanyaannya sekarang,  apakah di usia pernikahan Anda  saat ini masih ada kata pujian pada pasangan Anda?  Atau pujian itu sudah sepi dan nyaris tidak pernah kedengaran lagi, atau mungkin sudah dialamatkan kepada orang lain.  Kalau pujian sudah menjadi sepi dan pindah alamat, berhati-hatilah karena bahaya kebekuan sedang mengancam rumah tangga Anda.  Sadarilah itu dan perbaikilah sebelum kebekuan itu menggunung.  Biasakanlah memberikan pujian di dalam hidup Anda terutama keluarga,  karena pujian akan menciptakan suasana mesra dalam rumah tangga Anda.

Dalam memberikan pujian perhatikan kebenaran isi pujian dan ketulusan Anda.  Salomo dalam nats Alkitab tadi berkata, Rambutmu bagaikan kawanan kambing yang bergelombang turun dari pegunungan Gilead.”   Di Palestina, kambing biasanya berwarna hitam dan sekawanan kambing digiring turun dari gunung  pada saat matahari terbenam.  Maksudnya adalah bahwa rambut mempelai perempuan itu berwarna hitam tebal bergelombang dan mempunyai kualitas yang tiada duanya memiliki daya pesona.  Perhatikan, Salomo menyajikan pujian kepada mempelai perempuannya di dasarkan pada kenyataannya serta tulus.  Pujian di sajikan tanpa melupakan satupun keindahan-keindahan yang dilihat Salomo dari mempelai perempuannya.  Semuanya diungkapkannya secara nyata dan  jujur.  Sehingga suasana di antara kedua mempelai ini semakin mesra dan bergairah.  Pada pasal dan ayat selanjutnya mempelai perempuan kembali memuji mempelai laki-laki.
Sebagaimana nats Alkitab ini berbicara kepada Anda,  bahwa jika Anda menyajikan pujian kepada pasangan Anda pujilah dengan benar dan tulus, jangan mengada ada atau mengarang.  Sebagai contoh:  Istriku masakannya enak sekali, padahal Anda makan sedikit karena tidak enak.  Anda hanya ingin menyenangkan hati istri, tetapi tidak jujur.  Nah pujian seperti ini manipulatif dan tidak dibutuhkan pasangan Anda. Kemudian jangan memberikan pujian kepada pasangan Anda jika ada udang dibalik batu.  Pujian yang isinya tidak sesuai  dengan kenyataan cepat atau lambat baunya segera tercium.  Jika Anda memberikan pujian yang benar dan tulus Anda pun akan menerima pujian yang tulus.  Rumah tangga Anda akan dihiasi dengan gairah emosi yang positif, kehangatan dan kemesraan tumbuh subur yang membuat keluarga Anda berbahagia. Mulailah dan lakukanlah sekarang dan jangan saling menunggu.


Memang, memberikan pujian adalah salah satu resep untuk menciptakan suasana mesra di dalam rumah tangga Anda.  Perlu diperhatikan  memberikan pujian juga diperlukan ketrampilan, dan kebenaran isi pujian harus sesuai dengan kenyataan serta ketulusan Anda. 

Menciptakan Suasana Mesra Lewat Kerendahan Hati

Kebekuan dalam rumah tangga dan akhirnya sampai pada perceraian terjadi karena masing-masing menganggap dirinya lebih utama dan lebih tinggi harkat dan martabatnya.  Dengan kondisi demikian  di antara pasangan itu  sering sekali tidak terjadi kecocokan dan tidak saling melayani, justru menunggu untuk dilayani.  Suami berkata dalam hati, saya ini kan sumber kebutuhan rumah tangga, tanpa saya mana bisa hidup.  Istri pun berkata demikian, saya ini kan yang mengurus rumah tangga terlalu capek bagiku kalau dituntut lagi melayani suami.  Tanpa saya juga rumah tangga ini tidak akan berjalan dengan baik.  Keadaan yang menganggap diri lebih utama adalah pemicu keretakan dalam rumah tangga.  Jika rumah tangga sudah retak,  diperlukan usaha ekstra untuk memperbaiki bahkan membangun kembali.  Untuk mencegah keretakan, Anda perlu menciptakan suasana mesra.

Suasana mesra akan tercipta dalam rumah tangga jika Anda  menganggap orang lain lebih utama.   Paulus lewat suratnya menasehati jemaat di Filipi yang dia rintis.  Filipi 2 : 1 – 8   
Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan,karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

Paulus mengingini supaya jemaat di Filipi tetap dalam satu kesatuan yang utuh, hidup dalam kehangatan kasih.  Paulus berkata supaya masing-masing jemaat mengutamakan orang lain dari pada dirinya sendiri;  artinya menyingkirkan sifat mementingkan diri sendiri.  Paulus paham benar, bahwa memelihara kepentingan diri sendiri adalah biang masalah dan sumber perpecahan.  Dengan mengutamakan kepentingan orang lain maka keterpaduan akan tercipta.  Kehangatan dan kasih akan mewarnai gereja, paguyuban, rumah tangga dan lain sebagainya. 

Watak dasar manusia adalah keinginan untuk dihargai, diutamakan, dipuji.  Jika Anda ingin keterpaduan, maka harus rela mendahulukan kepentinga orang lain.  Demikian halnya dalam rumah tangga; suami ingin dihargai, istri ingin dikasihi, anak ingin diperhatikan.  Kebutuhan ini adalah manusiawi, dengan adanya kebutuhan ini justru mendorong manusia untuk lebih produktif.  Menyadari bahwa kebutuhan akan hal tersebut adalah manusiawi, maka inilah dasar Anda untuk menyuplai kebutuhan itu bagi pasangan Anda supaya kebutuhan itu terpenuhi.  Biasanya jika kebutuhan sudah terpenuhi, biasanya manusia akan berusaha bagaimana memenuhi kebutuhan orang lain.

Anda bukan orang biasa tetapi orang luar biasa yang terlebih dahulu memenuhi kebutuhan orang lain dari pada kebutuhan diri Anda sendiri. Tuhan Yesus berkata dalam Matius  7:12 "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.    

Yesus berbicara kepada Anda supaya Anda  membiasakan diri mendahulukan orang lain. Suasana mesra akan tercipta jika Anda meninggalkan status. Seorang wanita pernah berkata kepada suaminya demikian, ingat ya…pa saya ini berasal dari keluarga terpandang dan papa  tau sendiri. Jadi saya tidak mau diperlakukan seperti ini.  Status Anda sebagai anak orang kayakah, sebagai anak pejabatkah atau status apa pun itu harus ditinggalkan kalau ingin menikmati suasana mesra dalam rumah tangga Anda.  Dengan status yang Anda miliki, sering sekali Anda merendahkan pasangan, dan Anda tidak akan dapat hidup mesra dengan pasangan jika membawa label itu.   Sebagaimana Yesus dalam nats di atas  menjelaskan bahwa  Yesus mengosongkan dirinya (meninggalkan statusnya) sebagai Allah dan mengambil rupa sebagai seorang hamba.  Yesus meninggalkan  segala kemuliaanNya demi mengasihi manusia, supaya Yesus bisa hidup mesra dengan manusia.  Supaya Yesus bisa memberikan dirinya demi kepentingan keselamatan manusia.  Statusnya ditinggalkan di sorga dan menjadi sama dengan manusia mengambil sikap sebagai hamba.  Jika Yesus datang kepada manusia dengan membawa status sebagai Allah, maka tidak akan ada perjumpaan dengan manusia, karena manusia adalah budak dosa.  Yesus mengutamakan manusia, datang ke dunia ini untuk melayani bukan untuk dilayani, demi keselamatan manusia Yesus berkorban taat sampai mati.

Demi suasana mesra dalam rumah tangga Anda, tinggalkanlah status Anda. Jika suatu saat ada konflik dalam rumah tangga, jangan bawa status Anda.  Status Anda sekarang adalah sebagai hamba untuk melayani anak, istri atau suami.  Kalau Anda seorang pejabat di pemerintahan, di rumah tangga Anda sebagai suami atau istri yang melayani.  Peliharalah suasana mesra dalam rumah tangga dengan meninggalkan status Anda.  Hal yang perlu Anda ingat adalah Yesus berhasil membawa damai sejahtera ditengah-tengah dunia ini, karena Yesus rela mengosongkan diri (meninggalkan status) dan menjadi manusia yang melayani.


Kerendahan hati menjadi nyata dilihat  dari sejauh mana anda mengutamakan pasangan anda/orang lain ketimbang diri Anda sendiri.  Sejauh mana Anda meninggalkan status Anda dan mengambil sikap untuk menjadi hamba di rumah tangga Anda.  Dengan kerendahan hati itu Anda akan menciptakan suasana mesra di dalam rumah tangga Anda.  Keselarasan, keterpaduan, kebahagiaan menjadi roh yang hidup dalam rumah tangga Anda.  
- Pdt. Eslo Laudin Manik -

Friday, March 29, 2013

“PENYEMBAHAN”



Nats   :    YOHANES 4:16-24

4:16 Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, panggillah suamimu dan datang ke sini."
4:17 Kata perempuan itu: "Aku tidak mempunyai suami." Kata Yesus kepadanya: "Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami,
4:18 sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau berkata benar."
4:19 Kata perempuan itu kepada-Nya: "Tuhan, nyata sekarang padaku, bahwa Engkau seorang nabi.
4:20 Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi kamu katakan, bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah."
4:21 Kata Yesus kepadanya: "Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem.
4:22 Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi.
4:23 Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.
4:24 Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran."
Dari nats ini saya renungkan bahwa titik permasalahan, kekacauan hidup manusia ada pada “PENYEMBAHAN.” Perempuan samaria ini RUMAH TANGGANYA hancur, Yesus Tahu itu sehingga Yesus menyuguhkan pertanyaan: “Pergilah, panggillah suamimu.”  Yesus masuk pada titik utama masalah perempuan itu.  Rupanya perempuan ini sudah 5 kali gonta-ganti suami tetapi tetap hidupnya kacau. Kondisi perempuan ini rupanya ada kaitannya dengan system penyembahannya.  Terbukti dari pengungkapan perempuan itu bahwa   nenek moyangnnya menyembah di atas gunung Gerizim. Nenek moyang’ perempuan Samaria itu berdosa dengan menyembah Allah di gunung Gerizim. Dengan mengikuti tradisi yang salah itu, perempuan Samaria itu juga berdosa.  Jadi ‘nenek moyang’ tidak bisa dipakai sebagai perisai.

Yesus memperbaiki konsep perempuan samaria itu tentang PENYEMBAHAN.  Yesus mengatakan bukan di gunung, bukan pula di Yerusalem tetapi menyembah Allah di dalam ROH dan kebenaran.  Allah itu bukan di gunung, bukan pula di Yerusalem.  SEbab Allah itu adalah ROH.  Barang siapa menyembahNya harus menyembahNYA didalam ROH DAN KEBENARAN.  Tidak hanya menyembah ROH saja, tetapi MENYEMBAH DI DALAM ROH DAN KEBENARAN.  Setelah YEsus memperbaiki konsep perempuan samaria itu, perempuan itu mengerti maka dan mengenal YESUS.  Secara diam-diam dia pergi bersaksi dan mengajak orang datang kepada Yesus.

Saudara yang kekasih, perempuan samaria itu kini tidak lagi datang bersembunyi pada waktu sepi ke sumur Yakub, tapi DIA  datang dengan membawa banyak orang untuk menyembah Allah di dalam ROH DAN KEBENARAN.  Sekarang pertanyaaannya???  BAGAIMANA MENURUT ANDA KEHIDUPAN DAN MASA DEPAN PEREMPUAN SAMARIA ITU???? APAKAH MASIH SAMA SEPERTI KETIKA IA BERJUMPA DENGAN YESUS DI SUMUR YAKUB??? ATAU SUDAH MENJADI BAIK KARENA DIA DAPAT MEMIMPIN BUKAN HANYA DIRI SENDIRI LAGI TETAPI MEMIMPIN ORANG BANYAK KEPADA YESUS.

Saudara, ketika situasi dalam hidup anda kacau, berantakan, hancur, gelisah dan tidak bermakna;  Maka perhatikan PENYEMBAHAN anda.  Mungkin penyembahan anda bukan ke gunung, tetapi ke benda lainnya barangkali.  MARI KITA PERBAIKI PENYEMBAHAN KITA SUPAYA HIDUP KITA TIDAK PERNAH HAUS KARENA YESUS MENJADI MATA AIR KEHIDUPAN DI DALAM  HIDUP KITA. SELAMAT SIANG, GMU all.

Thursday, April 21, 2011

Keegoisan Seksual

Filipi 2 : 4

dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.

Dalam beberapa pasangan suami isteri sering dijumpai keegoisan seksual. Ada yang ingin "melakukan apa yang saya mau kapanpun saya inginkan". Ada yang berusaha menciptakan gairah seksual dengan berbagai variasi hubungan diluar norma-norma kekudusan demi tujuan utama yaitu kenikmatan seks. Penyimpangan logika seperti inilah yang menjadi latar belakang mengapa banyak pasangan, saat mereka berkencan, dengan cepat saling bercumbu dan melakukan hubungan seks. Namun hal itu lama-kelamaan akan terasa membosankan. Setiap level baru dari kenikmatan seksual akan berhenti dalam satu titik, hanya untuk kemudian digantikan dengan hal lainnya yang terbukti akan membosankan pada akhirnya. Konflik seksual pun tidak dapat dielakkan dan berakibat pada terputusnya komunikasi seksual baik secara verbal maunpun nonverbal.

Sahabat, keegoisan seks sering dipicu oleh tujuan seks yang keliru yaitu ”kenikmatan.” Untuk mencapai tujuan ini, suami atau isteri besar kemungkinan mengeksploitasi pasangannya. Hal ini tentunya dapat melukai ataupun menyakiti pasangannya. Firman Tuhan hari ini menegur pasangan suami isteri supaya jangan memenuhi kebutuhan seks berdasarkan kepentingan diri sendiri, tetapi harus berdasarkan kepentingan bersama. Idealnya pasangan suami isteri sebaiknya harus bersifat melayani dan saling menghormati kebutuhan dan preferensi satu sama lain. Bila ini dilakukan dalam hidup bersama dengan pasangan maka suami isteri tidak akan terjebak pada tujuan duniawi seks tetapi terarah kepada tujuan sebenarnya dari seks adalah kudus, kesatuan yang indah. Seperti inilah yang menciptakan keutuhan, kesatuan rumah tangga.