Wednesday, June 11, 2014

Mendidik Lewat Teladan Hidup

Hiduplah seekor burung beo dipelihara oleh satu keluarga yang terkenal baik dan ramah.  Burung beo ini setiap pagi menyapa setiap orang yang lewat pintu rumahnya dengan sopan.  Suatu ketika keuarga ini hendak berlibur ke luar kota selama satu bulan.  Burung beonya terpaksa dititip kepada salah seorang keluarganya.  Nah selama satu bulan burung beo ini banyak memperoleh pelajaran baru dari majikannya yang baru.   Nah, setelah pulang, kemudian burung beo ini dikembalikan kepada si pemilik.  Alangkah kagetnya si pemilik, karena bahasa burung beonya sudah berubah, dari bahasa yang sopan kepada bahasa yang tidak sopan.  Kemudian si pemilik ini sadar bahwa burung beonya rusak mentalnya selama satu bulan bergaul dengan majikan yang baru.  Teladan hidup baik atau buruk sangat mudah untuk dipelajari.

Dasar Firman Tuhan terambil dari Kitab Injil Yohanes 13:15-17 , demikian:
Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya, ataupun seorang utusan dari pada dia yang mengutusnya.  Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya.

Mendidik dan mengajar merupakan tugas orang tua yang tidak bisa diabaikan.  Memelihara anak tidaklah hanya dimengerti sebatas membesarkan dan mencukupi segala kebutuhan biologisnya. Jika  pengertiannya hanya sebatas itu dapat berakibat kepada pengabaian pendidikan.  Jadi, perlu dipahami bahwa orang tualah yang berperan utama dalam pendidikan terhadap anak-anaknya.  Pendidikan anak dapat dilakukan secara formal dan non formal.  Pendidikan formal kita peroleh lewat pendidikan di sekolah atau yang diselenggarakan dengan resmi.  Namun pendidikan non formal dapat dilakukan secara bebas waktu, tempat dalam situasi apa saja.  Pendidikan ini  dapat dilakukan lewat teladan hidup.

Firman Tuhan di atas mengajarkan kepada kita bagaimana Yesus Kristus mengajar atau mendidik murid-muridnya lewat teladan hidupnya (apa yang dia perbuat secara praktis).  Injil Yohanes pasal 13 ayat 5 menjelaskan bagaimana Yesus memberi teladan hidup tentang kerendahan hati.  Yesus Kristus yang adalah Allah, tidak menggendong budaya patriakhart hal itu ditunjukkannya ketika Yesus dengan rendah hati membasuh kaki murid-muridnya.  Peristiwa dramatis ini juga  mempertunjukkan betapa kasihnya Yesus kepada murid-muridnya, dan teladan ini diberikan oleh Yesus supaya murid-muridnya saling melayani.
Teladan yang diberikan Yesus menjadi inspirasi bagi Anda dalam mendidik anak-anak Anda.  Anak lebih memperhatikan apa yang Anda perbuat ketimbang apa yang Anda katakan.  Semakin banyak bicara, semakin tidak ada wibawa, tetapi semakin banyak bertindak semakin kita berwibawa di mata anak-anak.   Sebagai orang tua, sebaiknya budaya patriakhart itu tidak mendominasi dalam mendidik anak-anak. 

Budaya patriakhart ini adalah budaya di mana bapa atau  orang tua adalah pusat penghormatan, kebenaran, dan orang tua tidak pernah salah, orang tua tidak bisa ditegur anak, orang tua tahu segalanya, dan orang tua tidak layak minta maaf kepada anak.  Sebagai orang tua, Anda lebih bijaksana jika mengikuti teladan Yesus yang akan memberi teladan hidup kepada anak-anak Anda.  Sebagai orang tua Anda diharapkan dapat merendahkan diri seperti Kristus yang adalah Tuhan yang memiliki alam raya ini rela merendahkan diri dan membasuh kaki murid-muridnya.  Mendidik lewat teladan hidup merupakan suatu khotbah yang hidup. Paulus mengatakan kepada jemaat di Korintus (2 Kor.3:2Kamu adalah surat pujian kami yang tertulis dalam hati kami dan yang dikenal dan yang dapat dibaca oleh semua orang.  Dari pernyataan Paulus, kita dapat simpulkan bahwa teladan hidup memiliki pengaruh yang besar untuk mempengaruhi orang kepada  kebenaran.

Saya pernah menegur anak saya, ketika dia membuka kulkas kemudian langsung minum dari bibir botol.  Saya katakan kepadanya, “Doulos”! nama anak saya Doulos, tidak sopan minum air langsung dari botol, apakah Doulos pernah lihat Bapak minum seperti itu? Teguran itu mendidik anak saya untuk tidak melakukannya lagi, karena dia melihat kami orang tuanya tidak melakukan seperti yang dia lakukan.  Pada suatu saat, pembantu kami, buka kulkas dan langsung minum dari bibir botol, anak saya melihat dan langsung menegur pembantu kami, dengan berkata;   Bibi! Tidak sopan minum dari botol, urainya. Peristiwa itu diberitahukannya kepada kami.  Padahal waktu itu usia anak saya baru 3 tahun.  Teguran saya kepada anak kami memiliki bobot karena disertai teladan.

Mendidik tanpa memberi teladan itu namanya menggurui yang hanya membuang energi.  Tidak seorang pun manusia di bumi ini senang digurui, baik itu anak-anak mau pun orang dewasa.  Orang lebih senang dengan hal-hal praktis yang indah yang dapat dilihat dan dapat dirasakan.   Karena itu jadilah orang tua yang memberi teladan kepada anak-anak Anda.

Perbuatan lebih nyaring suaranya dari pada bicara, oleh karena itu baiklah kita banyak berbuat ketimbang bicara, banyak bekerja ketimbang cerita ketika Anda mendidik anak-anak.    Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.


Abraham pendidik Ishak



Memiliki anak Tunggal bisa membuat masalah dalam proses pendidikan bagi anak tersebut.  Keadaan itu disebabkan perhatian yang full terhadap satu anak saja.  Orang tua pun sering sekali dikuasai perasaan, emosi dalam memelihara anak-anaknya.  Biasanya ekstra hati-hati, perasaan sayang yang berlebihan ditumpahkan kepada anak tersebut.  Maklum karena hanya punya anak tunggal.  Keadaan ini akan membentuk anak menjadi kolokan alias manja dan tidak  mandiri.  Anak beranjak dewasa dengan memiliki mental yang buruk karena tidak dididik sedemikian rupa.  Orang tua hanya mementingkan dirinya sendiri untuk menyayangi dirinya sendiri lewat menyayangi anak tunggalnya.  Bahaya ini sering sekali menerpa keluarga-keluarga yang memiliki anak tunggal atau semata-wayang.  Lain halnya dengan Abraham yang memiliki anak tunggal Ishak dia adalah pendidik yang handal.

Pembacaan Firman Tuhan terambil  dari  Kitab Kejadian 22:7-10,  berbunyi demikian: 
Lalu berkatalah Ishak kepada Abraham, ayahnya: "Bapa." Sahut Abraham: "Ya, anakku." Bertanyalah ia: "Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?" Sahut Abraham: "Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku." Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama. Sampailah mereka ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Lalu Abraham mendirikan mezbah di situ, disusunnyalah kayu, diikatnya Ishak, anaknya itu, dan diletakkannya di mezbah itu, di atas kayu api. Sesudah itu Abraham mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya.

Kejadian pasal 22 ini dapat menjelaskan kepada kita secara teologis, bahwa Abraham membiasakan anaknya untuk bersekutu dengan Tuhan.  Ketika Abraham mengajak Ishak ke gunung Moria dalam rangka mempersembahkan anak domba untuk korban bakaran, secara implisit Alkitab menjelaskan Ishak sudah terbiasa dengan seremonial itu, sebagai bukti Ishak ikut mempersiapkan berkenaan dengan acara tersebut.  Ishak memikul kayu dan Abraham memegang api dan pisau.  Dari ayat ini dapat dilihat bahwa Abraham tidak memanjakan anaknya dengan membebaskan beban bagi Ishak.  Bisa saja Ishak tidak dilibatkan dan memberikan tugas itu kepada kedua bujangnya.  Abraham bisa saja menyediakan semua keperluan itu dengan menyuruh pembantu-pembantunya karena dia seorang kaya yang tidak kekurangan  pembantu. Namun,  Abraham tidak melakukan itu, dia membagi tugas  kepada Ishak.   Mengamati peristiwa ini, dapat disimpulkan bahwa Abraham membiasakan diri untuk membagi tugas kepada Ishak sebagai sarana  pendidikan.  Kalau Abraham tidak membiasakan hal yang sedemikian, tentunya pikir Ishak tidak akan bersedia melakukan pekerjaan itu, dan berkata: capek Pak, suruh saja pembantu, atau ayah sajalah yang bawa.  Abraham mengerti pentingnya pendidikan bagi anaknya,  sehingga dia tidak menyerahkan anaknya Ishak ke dalam suatu situasi yang serba mudah dan serba memanjakan. Secara implisit Alkitab menjelaskan  bahwa Ishak sangat bertanggung jawab dalam seremonial tersebut.  Selain memikul kayu,  Ishak juga menyiapkan perapian untuk membakar persembahan itu.  Ishak bertanya kepada Abraham, Bapak, di sini sudah ada api dan kayu dimanakah anak domba untuk korban bakaran itu? Dari pertanyaan Ishak ini, kita dapat menafsirkan bahwa Ishak ambil bagian dan bertanggung jawab untuk acara korban bakaran tersebut. 
Ishak tidak duduk diam, bermain dan membiarkan Abraham bekerja sendiri.  Ishak sudah terdidik dari kecil untuk bertanggung jawab terhadap segala pekerjaannya.  Dapat diinterpretasikan bahwa Ishak sebagai anak tunggal bukanlah anak yang cengengesan ataupun kolokan.  Ishak adalah anak tunggal yang dididik oleh Abraham hidup mandiri dan memiliki dedikasi yang tinggi terhadap segala pekerjaan yang dipercayakan kepadanya.

Cara Abraham ini mengilhami Anda sebagai keluarga yang mungkin saat ini memiliki anak tunggal atau semata-wayang supaya Anda tidak tenggelam di dalam peninaboboan, pemanjaan, dan selalu memberi kemudahan  kepada anak tunggal Anda.  Jika Anda menyayangi anak Anda, tidaklah tepat kalau Anda membiarkan anak hidup dalam serba ringan dan mudah.  Tetapi memberikan kesempatan kepada Anak anda untuk belajar mengatasi kesulitan hidup, mencari jawaban sendiri di bawah bimbingan Anda itulah yang lebih tepat untuk menyayangi.    Rasa sayang tidak hanya diterjemahkan dengan tidak memberi tugas, pekerjaan, beban kepada anak-anak.  Rasa sayang dapat diterjemahkan dengan memberi tanggung jawab kepada anak-anak sesuai dengan porsinya dalam proses pendidikan.  Anak-anak yang sejak dini terlatih dengan tugas dan tanggung jawab akan menjadikan anak-anak menjadi  dewasa yang memiliki kepribadian yang unggul, anak-anak yang berdedikasi yang memungkinkan mereka dapat menata hidup lebih bijaksana.  Anak-anak akan mampu bekerja, bermasyarakat, dan menjadi berkat bagi masyarakat tanpa kehadiran kita.  Orang tua akan sangat berbahagia dan diberkati jika memiliki anak-anak yang dapat bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri bahkan kepada masyarakat.
Selain tanggung jawab Ishak yang ditampilkan dalam ayat tersebut, juga ditampilkan ketaatan Ishak ketika  Ishak diikat dan diletakkan diatas mezbah.  Saat itu diperkirakan Ishak sudah berusia 17 tahun, dan Abraham sudah cukup tua.  Jika Ishak bukanlah anak yang taat, maka tentunya akan begitu mudah baginya untuk melepaskan ikatannya dan memberontak lalu kabur.  Siapa yang tidak takut mati, siapa yang tidak takut dibakar.  Tetapi ayat ini menjelaskan bahwa Ishak taat dan  sama sekali tidak memberontak. 

Kita lihat bahwa ketaatan Ishak terbentuk dengan pendidikan Abraham tentang Allah.  Ishak sudah mengerti tentang siapa yang disembahnya.  Ishak taat bukan kepada Abraham saja, tetapi kepada Tuhan.  Ishak  rela melakukan yang terbaik dalam kebenaran.  Ishak sungguh percaya kepada Tuhan dan kepada Abraham bahwa ayahnya melakukan apa yang terbaik.  Ketaatan seperti ini akan anda jumpai pada anak-anak Anda, tatkala Anda seperti Abraham mendidik anaknya Ishak di dalam Tuhan.  Roh Allah yang berkuasa di dalam hati Ishak yang membuat dia taat kepada Abraham.  Abraham sebagai ayah tidak mengalami keadaan sulit di masa tuanya karena anaknya Ishak yang dia didik di dalam Tuhan memiliki loyalitas yang tinggi kepada Abraham dan kepada Tuhan.  Abraham memiliki hubungan yang harmonis dengan keluarganya berkat Abraham mendidik Ishak yang ditaklukkan di dalam kasih karunia Tuhan.

Sebagai orang tua yang bijaksana jadilah seperti Abraham yang tidak mabuk dan takut dengan anak tunggal.  Abraham tetap memberikan didikan kepada anaknya, Ishak, sehingga tumbuh menjadi anak yang bertanggung jawab dan taat kepada Tuhan dan keluarga.


Mendidik Anak-Anak Lewat Ibadah Keluarga

Keluarga adalah satu tempat yang baik bagi anak-anak untuk menerima didikan.  Dalam  keluarga dapat berlangsung ibadah kecil yang berisi doa, pembacaan firman Tuhan dan sharing.  Lewat ibadah keluarga orang tua dapat memberikan wejangan singkat  kepada anak-anaknya tentang apa yang baik dan apa yang buruk.  Orang tua  juga dapat memakai sarana itu untuk mengevaluasi perilaku,  saling memaafkan dan saling mendorong dalam perbuatan kebajikan.  Lewat ibadah keluarga, Anda mempersilahkan Tuhan membentuk anak-anak sesuai dengan kehendakNya. 

Bacaan Firman Tuhan terambil dari Kitab Kisah Para Rasul 17:11 dan  1 Timotius 4:8;
Orang-orang Yahudi di kota itu lebih baik hatinya dari pada orang-orang Yahudi di Tesalonika, karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian.
Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.
Firman Tuhan ini menjadi jaminan bagi keluarga Kristen untuk mendidik anak-anak lewat ibadah keluarga.  Ibadah yang diisi dengan penyelidikan Firman Tuhan membuat orang-orang Yahudi di Berea lebih baik hatinya dari pada orang-orang Yahudi di Tesalonika.  Dari pernyataan Firman Tuhan ini, kita dapat aminkan bahwa ibadah akan mempengaruhi  sikap dan cara berpikir.  Pertanyaannya:  mengapa, ibadah dapat membuat seseorang lebih baik?  Jawabnya adalah di dalam ibadah kita dapat berjumpa dengan Tuhan yang Maha Kuasa dan yang berkuasa untuk mengubah perilaku hidup seseorang.  Dengan menyelidiki Firman Tuhan serta menerimanya dengan kerelaan hati maka Tuhan leluasa  membentuk karakter seseorang sesuai dengan kehendakNya.

Kaitan ayat Firman Tuhan ini dengan mendidik anak lewat ibadah keluarga adalah perubahan.  Kalau orang-orang Yahudi di Berea dapat berubah hatinya menjadi lebih baik ketimbang orang-orang Yahudi di Tesalonika, itu pun berlaku di dalam keluarga.  Kalau keluarga-keluarga Kristen melakukan ibadah keluarga secara murni, maka  di sana pun ada Roh Tuhan yang akan membimbing anak-anak, keluarga, ayah, ibu untuk hidup lebih baik lewat Firman Tuhan yang diselidiki di dalam ibadah keluarga.  Firman Tuhan yang diterima oleh orang Yahudi di Berealah yang mengubah hati mereka menjadi orang Yahudi yang baik hatinya.  Berarti Firman Tuhan adalah kuasa Allah untuk mengubah hati seseorang.

Nasehat memang penting bagi anak-anak, tetapi nasehat yang tidak dinafasi Firman Tuhan adalah sia-sia.  Mengapa?  Karena hanya Tuhanlah yang dapat  mengubah hidup seseorang  dari dalam diri manusia sesuai dengan kacamata Tuhan.  Jika orang tua sedang menasehati anak-anaknya yang berperilaku buruk,  biasanya  yang hadir bukanlah perubahan tetapi pertengkaran.  Orang tua yang tidak tinggal bersama dengan Tuhan Yesus, niscaya kalau mereka dapat mendidik anak-anaknya di dalam Tuhan.


Jika Anda membuat ibadah dalam keluarga, tentunya dalam keluarga Anda akan tercipta orang-orang yang baik hatinya sesuai dengan apa yang Akitab katakan.  Dalam ibadah keuarga lah Anda akan bertemu dengan semua anggota keluarga. Dalam ibadah keluargalah Anda dapat berkomunikasi dengan anggota keluarga, bercanda gurau, evaluasi diri dan saling melayani.  Dalam ibadah keluargalah kasih mesra saling bercium-ciuman karena cinta kasih dan kerinduan yang mendalam.  Dalam ibadah keluargalah kita dapat mengutarakan isi hati kita kepada Tuhan dan sesama anggota keluarga.  Dalam ibadah keluarga lah kita dapat belajar banyak tentang hidup, etika dan norma-norma dari anggota keluarga yang lainnya. Di dalam ibadah keluarga lah Tuhan lebih leluasa membimbing  Anda dan anak-anak Anda.  Dan Keluarga dapat sekaligus menjadi kelas katekisasi bagi anak-anak.

Ibadah keluarga dapat memberikan keleluasaan bertanya dan berpendapat.  Anak-anak akan lebih banyak menyerap berbagai informasi yang disampaikan lewat keluarga.  Satu hal yang penting dan tidak boleh terlupakan dalam mendidik anak lewat ibadah keluarga adalah teladan hidup.  Kita sebagai orang tua, harus berfungsi sebagai imam dalam rumah tangga.  Sebelum mereka melihat ke gereja, terlebih dahulu mereka melihat teladan rumah tangga.  Dalam hal ini adalah Ayah figure yang terutama yang akan pertama dilihat anak.  Teladan ini adalah merupakan kekuasaan dalam mendidik anak-anak.  Ibadah keluarga adalah sarana yang efektif dalam mendidik anak-anak.

Mendidik anak-anak lewat ibadah keluarga adalah sesuatu yang sangat tepat.  Anak-anak akan terdidik di dalam iman kepada Tuhan, iman itu akan membawa kepada satu Figur yang sempurna yaitu Yesus.  Anak-anak akan meanjadi sama seperti Yesus yang mengasihi, melayani dan mementingkan kepentingan orang lain.  Lewat ibadah keluarga ini, maka anak-anak, ayah dan ibu  juga terdidik di dalam iman mereka kepda Kristus. 



Thursday, June 5, 2014

Mendidik Anak Dalam Kebenaran Tuhan

Seorang ibu bercerita bahwa dia tidak terlalu mengalami kesulitan menghadapi anak-anaknya pada masa kecil mereka.  Tetapi setelah mereka dewasa, barulah ibu ini mengalami kesusahan akibat perilaku anak-anaknya.  Ibu ini  beragama Kristen, namun tidaklah menghayati nilai-nilai agamanya.  Memang ibu ini tidak mengalami kesulitan menghadapi anak-anaknya karena ia memang mengabaikan pendidikan bagi anak-anaknya. Anak-anak yang masih kecil-kecil dibiarkan untuk mengambil keputusan dan menurut kehendaknya sendiri, jadi wajarlah bagi ibu ini apabila ia tidak mengalami kesulitan yang berarti. Seperti pepatah mengatakan,  apa yang Anda tabur itulah yang akan Anda tuai. Ibu ini menuai kesusahan setelah  anak-anaknya menginjak dewasa. Anak-anaknya yang tidak terdidik sangat membuat malu dan menyusahkan orang tuanya sendiri.  Mengapa ibu ini tidak mendidik anaknya dalam kebenaran?

Firman Tuhan terambil dari 2 Timotius 3:16 berbunyi demikian, “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.”  Seseorang dapat mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan dan mendidik orang dalam kebenaran adalah seseorang yang sudah menerima pengajaran Firman Tuhan.  Mustahil seseorang dapat mengajar bahasa Inggris kalau dia belum mendapat pengajaran bahasa Inggris. Ibu dalam cerita di atas, adalah ibu yang belum menerima pengajaran Firman Tuhan, dan Firman Tuhan belum melekat di dalam hatinya. Wajarlah kalau dia tidak dapat dan tidak ada minat untuk  mengajar anaknya di dalam kebenaran Tuhan.

Untuk mendidik anak dalam kebenaran Firman Tuhan, logisnya  Anda sebagai orang tua terlebih dahulu harus diajar, diisi Firman Tuhan.  Maka Firman Tuhan yang melekat di dalam hati Anda menjadi penuntun bagi Anda untuk mengajar,  membimbing, menyatakan kesalahan. Firman Tuhan mendorong Anda untuk perhatian terhadap didikan kebenaran Tuhan bagi anak-anak Anda, selanjutnya Firman Tuhan akan memampukan Anda untuk  sabar membimbing anak-anak yang berandal, yang menentang Anda.  Di dalam diri Anda ada wibawa Ilahi dan kasih Ilahi sehingga Anda di mata anak-anak adalah orang tua yang layak dihormati. Dalam Kitab Perjanjian Lama menjelaskan mengenai Ayub yang peduli dengan hubungan anak-anaknya dengan Tuhan.  Ayub bergairah dalam bidang rohani secara pribadi, tapi tak kurang pula kegairahannya untuk kehidupan rohani  keluarganya.  Ayub pasal 1 ayat 5 membuktikan  bahwa  Ayub selalu memanggil anak-anaknya seusai melakukan pesta.  Ayub senanatiasa mempersembahkan korban bakaran kepada Tuhan bagi anak-anaknya, kalau-kalau anaknya melakukan dosa di hadapan Tuhan.

Tindakan Ayub ini adalah tindakan kebenaran yang terdorong dari kebenaran yang ada di dalam dirinya.  Firman Tuhan tadi menjelaskan bahwa Ayub sangat teliti sekali mengenai pendidikan kebenaran bagi anak-anaknya.  Ayub senantiasa mengarahkan anak-anaknya kepada hidup yang benar di dalam Tuhan.  Mengapa Ayub bergairah melakukan itu? Karena kebenaran sudah melekat di dalam hati Ayub.  Kebenaran  Tuhan itu mengilhami Ayub untuk mengajar, menyatakan kesalahan dan mendidik dalam kebenaran Tuhan.

Kita sebagai orang tua tidak akan bosan-bosan mengajar,  menyatakan kesalahan kepada anak-anak kita, jika kita ada di dalam Tuhan.  Dengan ilham Roh Kudus, kita sebagai orang tua akan menerima hikmat dan  bahasa yang bijaksana ketika kita menyatakan kesalahan anak-anak kita.  Ketika mengajar, menyatakan kesalahan, hati kita diselimuti  perasaan belas kasihan dan kerinduan agar anak-anak kita hidup di dalam kebenaran Tuhan.

Bila kita mendengar kata mengajar, maka bayangan kita kepada proses belajar mengajar yang dilakukan seseorang yang baik, yang  sopan santun, pandai, dan lembut.  Jika ada  seorang ayah  peminum dan penjudi kemudian menasehati anaknya untuk tidak minum dan tidak  berjudi, nasehat itu tidak akan mendarat kepada anak.  Mengapa demikian?  Karena dia tidak menjadi teladan bagi anaknya.  Disebut mengajar jika pengajar dapat memberi teladan praktis yang dapat diikuti oleh anak selain teori-teori yang diucapkan.  Mengajar tanpa teladan akan menuai penentangan dan kritikan dari orang yang kita ajar atau nasehati.  Kemudian ketika menyatakan kesalahan, kecenderungan orang menyatakan kesalahan lebih dikuasai oleh emosi yang akan melahirkan penghakiman.  Orang tua yang ada di dalam kebenaran firman Tuhan akan terampil dalam mengelola emosi mereka ketika menyatakan kesalahan kepada anak-anaknya.  Mengapa demikian?  Karena hikmat dari Tuhan Allah sudah melekat di dalam hatinya yang memimpinnya melakukan kebenaran dan mendidik anak-anaknya dalam kebenaran.  Jadi untuk memperbaiki kelakuan hanya ada satu cara yaitu mendidik anak-anak dalam kebenaran Firman Tuhan karena itulah yang tertulis dalam Firman Tuhan.


Mendidik anak-anak dalam kebenaran dapat dilakukan oleh orang tua yang sudah hidup dalam kebenaran itu.  Roh kudus akan mengilhami Anda bagaimana mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, sehingga Anda dapat menuntun anak-anak Anda di dalam kebenaran Tuhan.  

Mendidik Anak Lewat Teguran

Harmonisasi dalam keluarga dapat  terjalin jika orang tua memperhatikan pendidikan bagi anak-anak.  Menerapkan pendidikan bagi anak-anak dalam rumah tangga tidaklah harus secara formal seperti yang diselenggarakan di sekolah.  Mendidik anak-anak dalam rumah tangga bisa dilakukan secara nonformal seperti  ketika bermain, ketika makan bersama, ketika hendak tidur, ketika anak melakukan pelanggaran dan lain sebagainya. Ketidak-harmonisan dalam rumah tangga bisa juga disebabkan karena anak-anak yang kurang menerima didikan dari orang tua.  Orang tua terlalu sibuk dengan pekerjaan, persahabatan, hobby, bahkan pelayanan dalam gereja.  sehingga orang tua melalaikan pendidikan bagi anak-anaknya.  Tidak heran kalau banyak perilaku anak-anak mengkhawatirkan para orang tua. Untuk mengantisipasi kerusakan mental, sejak dini orang tua  memberikan didikan bagi anak-anak sesuai dengan porsinya. 

Dasar  perenungan ini diambil dari Kitab Amsal 6:23; 25:12  Firman Tuhan berkata,    “Karena perintah itu pelita, dan ajaran itu cahaya, dan teguran yang mendidik itu jalan kehidupan.”  Teguran orang yang bijak adalah seperti cincin emas dan hiasan kencana untuk telinga yang mendengar.

Penulis Amsal ini menekankan bahwa  teguran yang mendidik itu adalah jalan kehidupan.  Tapi sebelum kata teguran, ada kata perintah dan ajaran.  Artinya sebelum memberikan teguran orang tua juga  sudah mempersiapkan anak dengan perintah, hukum atau pengajaran.  Nah, prinsipnya teguran  akan diberikan jika anak-anak mengabaikan perintah dan ajaran. Itulah prinsip Alkitab.  Namun kenyataan sehari-hari ada banyak orang tua  yang tidak memberikan teguran kepada anak-anaknya.  Salah satu contoh yang paling terkenal dalam Alkitab adalah kisah Adonia anak Raja Daud yang dicatat dalam kitab 1 Raja-raja 1:5,6 demikian, 
“Lalu Adonia, anak Hagit, meninggikan diri dengan berkata: "Aku ini mau menjadi raja." Ia melengkapi dirinya dengan kereta-kereta dan orang-orang berkuda serta lima puluh orang yang berlari di depannya. Selama hidup Adonia ayahnya belum pernah menegor dia dengan ucapan: "Mengapa engkau berbuat begitu?"

Raja Daud sudah memilih Salomo menjadi Raja, tetap Adonia tidak menerimanya kemudian ia menghimpun kekuatan untuk merampas kedudukan Raja.  Sifat pemberontak ini adalah salah satu sifat Adonia yang ditulis  oleh Alkitab,  tentunya Adonia sudah memiliki sifat-sifat yang buruk yang tidak tercatat.  Kemudian kita bertanya, mengapa Adonia memiliki sifat demikian?  Jawabannya adalah, karena Adonia  selama hidupnya tidak pernah ditegor oleh Daud. 

Sejarah hidup Adonia ini, menjadi cermin bagi orang tua masa kini agar memberikan didikan bagi anak-anaknya lewat teguran ketika anak berjalan tidak pada jalan yang benar.  Bagaimana menegur anak?  Menegur mereka dengan menunjukkan kesalahan-kesalahan yang mereka lakukan kemudian mengarahkannya pada jalan  yang benar demikian seterusnya berulang-ulang hingga anak memahaminya.  Inilah yang disebut teguran yang mendidik.  Teguran yang mendidik tidak disertai dengan amarah dan kebencian yang meluap-luap.  Teguran yang mendidik disertai dengan kasih dan disiplin yang akan membentuk anak-anak penuh kasih dan penuh dedikasi.

Jika orang tua sedang menegur anak-anaknya karena kesalahan, sebenarnya orang tua  sedang  membimbing anak-anak itu kepada kehidupan.  Alkitab  Amsal 6:23 tadi mengatakan bahwa perintah itu pelita, dan ajaran itu cahaya, serta teguran itu kehidupan, nah orang tua yang memberi perintah, ajaran dan teguran kepada anak-anaknya sama halnya dengan memberikan lampu untuk bekal perjalanan di dalam kegelapan.  Perintah akan mengarahkan jalan mereka kepada kebenaran; Ajaran akan memberikan pemahaman kepada mereka tentang yang benar dan tidak benar; Teguran akan meluruskan jalan mereka jika tersesat.   

Berikanlah perintah, ajaran, teguran yang mendidik dan  jangan memberi perintah yang tidak sesuai dengan porsi mereka.  Jangan memberi perintah hanya karena kepentingan Anda sendiri.  Jangan memberi perintah karena emosional, jangan memberi perintah kepada anak-anak, karena tuntutan masyarakat, karena tuntutan gengsi, kehormatan Anda.  Perintah yang demikian tidak menjadi pelita tapi menjadi pedang yang akan menghunjam kepada anak-anak dan kepada  Anda sendiri.   Ketika memberikan ajaran, jangan mengajar anak-anak Anda untuk benci kepada ayahnya.  Adakah seoragn ibu demikian? Ada, karena benci kepada suaminya yang tidak bertanggung jawab, atau tidak menjadi teladan, atau suami yang tidak pernah memperhatikan keluarga.  Jangan mengajar anak-anak Anda untuk mencuri, jangan mengajar anak-anak Anda untuk kepahitan kepada ayah atau ibu.   Biasanya hal ini dapat terjadi kepada keluarga yang broken home.  Suami istri yang bercerai.  Jika Anda seorang suami/atau istri yang tidak harmonis jangan melibatkan anak-anak Anda untuk turut dalam kepahitan itu dengan mengajak mereka untuk membenci.  Tetapi ajarlah anak-anak untuk mencintai ayahnya. Anda sebagai suami atau istri harus dapat menjadi teladan dengan cara  memaafkan pasangan Anda yang mungkin menyakiti hati Anda. Kalau tidak, maka Anda tidak akan dapat mengajar anak-anak Anda sebagai mana mestinya.  Pada saat Anda  memberikan teguran, kepada  anak-anak, tegurlah ia dengan lemah lembut dan berikanlah jalan keluar kepadanya untuk mengatasi kesalahan yang dilakukannya, maka anak-anak Anda akan berloleh jalan kehidupan.  Anda tidak akan memiliki anak seperti Adonia yang menyusahkan hati Daud, tetapi anda akan memiliki anak seperti Yusuf yang menyegarkan jiwa anda, karena dia hidup dan Anda pun hidup.


Untuk dapat memberikan teguran yang mantap, teguran yang bijak, seyogyanya Anda sebagai orang tua belajar kepada Yesus yang penuh hikmat dan lemah lembut. Teguran yang bijaksana yang diberikan kepada anak-anak adalah jalan kehidupan.  Jika anak-anak hidup maka anak-anak dapat menghidupkan harmonisasi dalam keluarga anda.  

Memelihara Kerukunan Antar Saudara.

Tema ini sengaja diketengahkan karena memperhatikan bahwa ada banyak hubungan sesama  saudara  sedarah, rusak  terpecah, diwarnai permusuhan, kebencian.  Kadang kala penyebabnya bisa sepele, kecemburuan, keserakahan dan warisan orang tua.  Keadaan dunia ini sering terbalik, saudara bisa menjadi musuh jika kerukunan antar Saudara tidak dipupuk.  Pada kesempatan ini saya akan memaparkan beberapa contoh dalam Alkitab mengenai keluarga yang tidak memelihara kerukunan antar saudara dan juga yang memeliharanya kerukunan antar saudara sehingga Anda  dapat bercermin dan menyadari, serta selanjutnya Anda terdorong untuk   mengambil sikap bagaimana  memelihara kerukunan antar saudara.

Firman Tuhan yang terambil dari  Mazmur 133:1-3,  berbunyi demikian:
Nyanyian ziarah Daud. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun! Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya. Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya.

Mazmur ini merupakan kesaksian dan pengalaman Daud tentang memelihara kerukunan dalam hidup.  Daud melukiskan berkat Allah mengalir seperti minyak dan turun seperti embun.  Artinya dengan memelihara kerukunan hidup maka berkat Allah menghampiri setiap orang yang mengasihiNya.

Alkitab menjelaskan tentang orang yang tidak memelihara kerukunan hidup.  Kain adalah anak Adam yang pertama, ia memiliki adik bernama Habel.  Kain tidak memelihara kerukunan dengan adiknya Habil karena faktor cemburu.  Kain cemburu karena persembahannya tidak diindahkan oleh Tuhan.  Akibatnya Kain panas hati, dan berangkat dari  panas hati dia melakukan pembunuhan kepada adiknya Habel.  Alkitab mencatat, sebagai akibat dari ketidak-rukunan  antar saudara ini menyebabkan Kain harus menjadi manusia terkutuk dan jauh dari hadapan Tuhan. Saya yakin Adam dan Hawa pasti berduka kehilangan Habel anaknya.  Saya yakin, bahwa kain tidak menikmati hubungan yang harmonis dengan orang tuanya Adam dan Hawa, karena sikapnya itu.  Juga Kain kehilangan adik yaitu Habel, penyesalan tidak ada gunanya.  Jadi sebelum terjadi peristiwa buruk antar saudara, perlu membina   kerukunan dalam persaudaraan ini.  Kemudian pada fase yang berbeda  kita melihat kembali relasi Esau dan Yakub, kakak beradik yang tidak memiliki kerukunan di antara mereka.  Esau membangun dendam dan kebencian kepada adiknya Yakub, karena Yakub serakah merampas hak kesulungan dari kakaknya Esau.  Dengan licik Yakub  menipu ayahnya dan juga kakakyna Esau demi hak kesulungannya.  Yakub dengan daya upayanya berhasil mendapatkan apa yang diinginkanya namun Yakub tidak sadar bahwa dia kehilangan kerukunan dengan kakaknya Esau.  Selama 20 tahun Esau dan Yakub bermusuhan dan Yakub harus terpisah dengan ayah dan ibunya  dan pergi mengungsi ke rumah pamannya Laban.  Selama kerukunan itu belum tercipta maka selama itu pula berkat tidak mengalir kepada Esau dan yakub. 

Di hati Esau membara kebencian dan dendam, dihati  Yakub tersembunyi ketakutan, kesedihan dan kesusahan sebab dia tidak dapat berjumpa dengan kakaknya Esau serta ayah dan ibunya mekipun Yakub rindu sekali.   Berkat tidak mengalir seperti minyak dan embun, yang mengalir adalah tekanan batin, kesedihan dan kekecewaan.  Dalam keluarga Ishak selam 20 tahun diwarnai kesedihan, dan ketakutan, karena anak-anaknya tidak memelihara kerukunan dalam keluarga.  Pemazmur yaitu Daud sudah mengalami ketidak rukunan anak-anaknya yang membuat keluarga Daud mengalami kesedihan, karena kedua anaknya Amnon dan Absalom yang bertikai harus mati.  Oleh karena itu sebagai kesaksiannya tentang memelihara kerukunan, Alkitab  berkata:  sungguh alangkah baiknya bila saudara memelihara kerukunan dan kesanalah berkat tercurah.
Dalam Perjanjian Baru Injil Yohanes 11 dan pasal 12 menjelaskan ada tiga bersaudara yang saling mengasihi.   Ketiga bersaudara ini memelihara kerukunan di antara mereka, dan hasilnya mereka saling mengasihi.   Ketiga bersaudara itu adalah Maria, Marta dan Lazarus.  Mereka memelihara kerukunan di atas  kasih dan anugerah Yesus.  Maria, Marta dan Lazarus sangat mencintai Tuhan Yesus.  Ketika Yesus datang kerumah mereka, Yesus dilayanai sedemikian rupa.  Maria bertugas mendengar Yesus dan Marta melayani dengan makanan dan minuman.  Yesus pun sangat mencintai mereka Yohanes (11:5,6).  Nah ketika terjadi kepada mereka kedukaan yaitu  Lazarus sakit keras, mereka mengundang Yesus dan untuk sementara kedatangan Yesus dinyatakan terlambat karena Lazarus sudah mati.  Maria datang kepada Yesus dan berkata Yohanes 11:32,33  "Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati."
Ketika Yesus melihat Maria menangis dan juga orang-orang Yahudi yang datang bersama-sama dia, maka masygullah hati-Nya. Ia sangat terharu.  Tuhan Yesus yang sangat mengasihi Maria, Marta dan Lazarus datang dengan membawa berkat, yaitu Tuhan Yesus menghidupkan kembali Lazarus.  Berkat Allah tercurah kepada Maria, Marta dan Lazarus karena mereka memeliharta kerukunan diantara mereka.   Maria sangat mengasihi Marta dan Lazarus demikian sebaliknya.  Kerukunan diantara Maria, Marta dan lazarus terpelihara karena mereka membangunnya di dalam kasih Kristus.  Tiga bersaudara ini yang memelihara kerukunan bukanlah dari golongan yang terpandang atau bangsawan tetapi masyarakat biasa.  Tetapi karena kerukunan di antara mereka terpelihara menjadi berkat bagi masyarakat.  Terbukti dari kematian Lazarus banyak orang datang bersimpati kepada mereka.  Bahkan Yesus anak Allah sangat mengasihi mereka. 

Saya tidak mengetahui kondisi relasi bersaudara Anda apakah terjalin dengan baik dan rukun seperti Maria, Marta dan Lazarus atau persaudaraan itu mirip Kain dan Esau yang bermusuhan karena kecemburuan dan warisan.  Anda  bisa bercermin bahwa Kain dan Esau tidak menikmati berkat Allah.   Berkat Allah tidak tercurah, tetapi kesedihan, kedukaan, dan tekanan batin. Namun jika anda bercermin dari Maria, Marta dan Lazarus, maka Alkitab mencatat bahwa Yesus sangat mengasihi tiga bersaudara ini.  Dan Tuhan Yesus memberkati tiga bersaudara ini dengan kerukunan dan kemesraan. 

Kerukunan antar sesama saudara dapat terpelihara, jika anda membangunnya di dalam Kasih Kristus.  Maria, Marta dan Lazarus sudah melakukannya dan terbukti bahwa mereka rukun dan saling mencintai.  Alkitab mencatat kesanalah Yesus suka hadir dan memberkati tiga bersaudara ini. 


Peran Pembantu Untuk Menciptakan Suasana Mesra Dalam Rumah Tangga.


Memanglah benar bahwa seorang pembantu bisa menjadi biang masalah di dalam rumah tangga.  Jika pembantu tidak taat dan tidak jujur.  Tidak sediki masalah dalam rumah tangga karena pembantu.  Pembantu yang suka mencuri, berbohong, bekerja tidak rela, bahkan lebih parahnya lagi yaitu pembantu yang genit kepada majikan jika kebetulan pembantu memiliki wajah yang menawan.  Pembantu bisa menjadi orang asing jika sikapnya tidak dapat beradaptasi, tidak bisa menjadi berkat dengan keluarga majikan, pembantu bisa terhisab menjadi anggota keluarga bila pembantu dapat menjadi berkat dengan keluarga majikan

Firman Tuhan dalam kitab Efesus 6:5-8 berbunyi demikian:
Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus,jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah,dan yang dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia. Kamu tahu, bahwa setiap orang, baik hamba, maupun orang merdeka, kalau ia telah berbuat sesuatu yang baik, ia akan menerima balasannya dari Tuhan.

Perintah Tuhan kepada pembantu dalam rumah tangga, kepada hamba-hamba terhadap majikan  adalah mentaati tuannya atau majikannya secara tulus dan tidak berpura-pura.  Artinya hamba atau  pembantu tetap giat bekerja baik diperhatikan maupun tidak diperhatikan oleh  majikannya.  Tanggung-jawabnya dilaksanakannya tidak tergantung keberadaan majikannya.  Kemudian, sebagai pembantu dalam rumah tangga bukanlah profesi tetapi sebagai panggilan Allah.  Pembantu dalam rumah tangga dilakukan dalam rangka pelayanan kepada Tuhan berarti seluruh kegiatannya dipertanggung-jawabkan kepada Tuhan.  Dengan menyadari panggilan sebagai pembantu dalam rumah tangga akan  memberikan kegembiraan tertentu bagi Anda untuk melayani dengan bangga di dalam rumah Tangga majikan Anda.  Anda akan melayani dengan kerelaan dan sukacita bukan  keterpaksaan.  Apabila kondisi demikian, maka ketulusan Anda benar-benar lahir dari hati Anda yang mengerti akan panggilan Anda.  Sungguh-sungguh Anda melayani rumah tangga tidak semata-mata karena uang, tetapi semata-mata karena panggilan, dan  Anda akan  memperoleh upah dari Tuhan.  Tuhan akan memberkati majikan Anda lewat hidup Anda, karena majikan Anda akan dapat merasakan apa yang Anda buat, sehingga membuat Anda dikasihi dan menjadi keluarga.   Dalam kitab Kejadian 39:1–7 menceritakan tentang Yusuf sebagai  pembantu yang taat kepada Tuhan.  Yusuf bekerja pada Potifar dan Tuhan menyertai Yusuf; Potifar melihat bahwa Tuhan menyertai Yusuf sehingga Yusuf beroleh kasih dari Potifar.  Potifar memberikan kuasa atas rumahnya dan segala miliknya diserahkannya kepada kekuasaan Yusuf, dan dengan bantuan Yusuf Potifar tidak usah lagi mengatur apa-apa pun selain dari makanannya sendiri.



Oleh Yusuf maka keluarga Potifar hidup dalam suasana mesra, kesejahteraan dan keteraturan rumah tangga memberi nuansa keindahan fisik dan juga mempengaruhi mental.  Alkitab mencatat bahwa peran Yusuf sangat besar dalam suasana mesra ditengah-tengah keluarga Potifar.  Janji Tuhan yang tertulis dalam Efesus 6:8 yang berkata
Kamu tahu, bahwa setiap orang, baik hamba, maupun orang merdeka, kalau ia telah berbuat sesuatu yang baik, ia akan menerima balasannya dari Tuhan. 

Janji ini tergenapi di dalam hidup Yusuf, Yusuf tidak lagi sekedar pembantu dalam rumah tangga Potifar, tetapi sudah menjadi pemimpin yang mengatur semua kegiatan dan kebutuhan dalam rumah tangga.  Kemudian ada lagi peran Yusuf yang terpenting yaitu menolak tawaran istri Potifar untuk berbuat zinah, inilah salah satu ketaatan Yusuf kepada Tuhan, yang menjadi jaminan bagi keluarga Potifar tidak terpecah.  Seandainya Yusuf mengabulkan permintaan istri Potifar, pasti suasana neraka akan terjadi pada keluarga Potifar, untuk itu ketaatan Yusuf sebagai pembantu menjadi penentu bagi suasana mesra dalam rumah tangga Potifar.
Sebagai seorang pembantu, Anda juga berperan dalam menciptakan suasana mesra dalam rumah tangga. Mungkin Anda sebagai TKW, TKI maupun pembantu  dalam negeri, anda dipanggil untuk hidup jujur dan taat.  Jika Anda sebagai pembantu jujur seperti Yusuf maka Anda pun akan diangkat martabatnya oleh Tuhan, diberikan kepercayaan penuh oleh Tuhan lewat keluarga dimana anda sedang melayani keluarga.  Masa depan Anda bisa berangkat dari seorang pembantu menjadi pemimpin kelas atas.  Anda tidak usah tergiur dengan keberhasilan materi sesaat.  Anda tidak usah tergoda dengan teman seprofesi Anda lainnya  yang berhasil secara materi lewat ketidak jujuran, dan keserakahan. Cepat atau lambat mereka akan beroleh ganjaran juga dari Tuhan yaitu penghukuman.  Bukankah sering kita mendengar Tenaga Kerja Wanita dari luar negeri dianiaya oleh majikan karena memiliki sifat tidak jujur tadi.  Mengingini barang-barang milik tuannya, melayani anak-anak majikan secara sembrono, bahkan bekerja tidak sesuai dengan harapan majikan.  Bahkan ada pula  Tenaga Kerja Wanita di luar negeri sedia diajak berzinah oleh majikan atau saudaranya demi uang.  Sehingga istri majikan mengetahuinya dan membaralah amarahnya yang memungkinkan terjadinya   penganiayaan pembantunya karena sikapnya tidak takut akan Tuhan.  Hiduplah sebagai hamba-hamba yang taat kepada tuan itulah bentuk pelayanan Anda kepada Tuhan.  Keberhasilan bisa datang dari mana saja kalau Tuhan sudah berkenan, karena Tuhan tidak terbatas dengan apa yang ada di bumi ini, karena bumi ini adalah milik pusakanya.

Ketaatan Anda kepada Tuhan yang anda realisasikan kepada majikan Anda, akan mendatangkan berkat bagi majikan Anda yaitu suasana mesra di dalam rumah tangga.  Kemesraan dalam rumah tangga menjadi bagian Anda juga.   Janji Tuhan, Anda akan mendapat berkat dari Tuhan dan Anda pun berbahagia.