Sunday, June 15, 2014

Tindakan Kekerasan Anak Secara Seksual


Kekerasan seksual kepada anak kerap kali terjadi pada zaman dulu dan juga pada akhir-akhir ini.  Ada banyak penyebabnya, antara lain adalah minuman dan narkoba yang membuat orang dewasa tidak lagi dapat berpikir waras dalam perilaku seksnya.  Kemudian akibat seringnya menonton CD porno bahkan suka pergi ke tempat-tempat pelacuran yang mengakibatkan perilaku moralnya menjadi bejat.  Anak-anak adalah objek yang paling lemah dan mudah diberdayakan untuk pemuas nafsu bejatnya.

Landasan Firman Tuhan terambil dari Kitab Imamat 18:10 & 19:29  yang berbunyi demikian, Mengenai aurat anak perempuan dari anakmu laki-laki atau anakmu perempuan, janganlah kausingkapkan auratnya, karena dengan begitu engkau menodai keturunanmu. Janganlah engkau merusak kesucian anakmu perempuan dengan menjadikan dia perempuan sundal, supaya negeri itu jangan melakukan persundalan, sehingga negeri itu penuh dengan perbuatan mesum. 

Kitab Imamat pasal 18 ini  berbicara tentang penentangan terhadap percabulan yang merajalela di antara bangsa-bangsa sekitar bangsa Israel. Kitab Imamat pasal 19 dan pasal 20 merupakan daftar nasihat dan daftar hukuman yang amat panjang gunanya untuk mengatur segala sesuatu guna kebaikan bangsa Israel. Firman Tuhan ini disampaikan kepada Musa supaya bangsa Israel tidak dicemari oleh nafsu rendah bangsa-bangsa di luar bangsa Israel. Nafsu rendah itu mengenai percabulan yang wajar dan yang tidak wajar. Tindakan kekerasan kepada anak-anak secara seksual  yaitu dengan menodai anak perempuannya dan eksploitasi seksual.

Tindakan kekerasan secara seksual rupanya sudah berlangsung sejak zaman Alkitab. Perilaku seksual yang tidak wajar antara ayah dan ibu rupanya itu bukan berita baru. Sebagai contoh Lot dengan kedua putrinya. Alkitab memang mencatat, inisiatif seksual itu bukan datang dari Lot tetapi dari kedua putrinya.  Namun, hal itu bukan berarti tidak ada akses dari Lot dalam perilaku seks abnormal. Lot diberi anggur oleh kedua putrinya sampai mabuk. Dalam kemabukanlah Lot melakukan inses kepada kedua putrinya tersebut. Menjadi pertanyaan saya, bukankah setelah sadar Lot harusnya tidak mengulangi lagi perbuatan itu kalau itu memang dianggap sebagai kenakalan dari kedua putrinya. Yang jelas, tindakan kekerasan seksual kepada kedua putrinya itu adalah dari Lot, apakah itu langsung atau tidak langsung.  Setiap orang yang melakukan hubungan seksual dengan sedarah atau kerabat itu tergolong kekerasan, sekali pun dari masing-masing pihak saling mau. Tanggung-jawab untuk hidup benar ada pada pria.

Tindakana kekerasan anak secara seksual masa kini semakin merajalela.  Ayah dengan anak kandungnya sendiri, kakek dengan cucunya, orang dewasa dengan anak tetangga, bahkan bayi pun tidak luput dari kekerasan seksual dari orang dewasa.  Media cetak dan media elektronik memberitakan secara terbuka tindakan kekerasan seksual yang terjadi kepada anak-anak.  Sebagai salah satu contoh yaitu kasus Eka usia 9 tahun, selama setahun menerima kekerasan seksual dari paman tirinya Ambo Ase.  Eka bukan hanya diperkosa namun juga disodomi. 
Eka tidak berani melapor kepada ayahnya karena ayahnya juga gemar mabuk-mabukan.  Akhirnya Eka harus meregang nyawa dengan kekerasan dari ibu dan paman tirinya.

Hal yang dikemukakan di atas merupakan salah satu contoh dari sekian banyak kasus kekerasan seksual kepada anak-anak. Melihat kenyataan ini, timbullan pertanyaan dalam benak saya, mengapa kekerasan seksual kepada anak kerap kali terjadi.  Bukankah ayah sebagai orang yang paling dekat sebagai pelindung? Pertanyaan ini selalu berulang-ulang bergema di dalam hati saya. Akhirnya  saya menemukan jawabannya setelah saya mempelajari firman Tuhan ini. Tuhan berfirman kepada Musa melarang bangsa Israel bergaul dengan bangsa-bangsa Kanaan, bahkan untuk kawin campur dilarang keras. Orang Kanaan adalah orang yang menyembah berhala, otomatis mereka tidak mengenal kebenaran. Kebenaran yang menjadi patokan bagi mereka yaitu apa yang dianggap mereka itu baik itulah kebenaran.  Jadi tidak ada aturan atau pun rem bagi mereka dalam berperilaku.  Tidak heran, bangsa-bangsa di luar bangsa Israel melakukan kekerasan seksual sebagai budaya.  Ayah melakukan hubungan seks, menyodomi putrinya sendiri itu merupakan hal biasa.  Tak heran, Lot dengan kedua putrinya juga melakukan kekerasan seksual karena hal itu sudah biasa mereka saksikan di Sodom sebelum ditunggang-balikkan oleh Allah.  Oleh karena itu berhati-hatilah dalam memilih pergaulan, karena pergaulan  yang  tidak   baik dapat merusak perilaku. Firman Tuhan dalam Surat I Korintus 15:33 berkata, Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.  Lot dan kedua putrinya berperilaku buruk juga karena pengaruh dari pergaulan buruk selama mereka ada di Sodom.

Jauhilah pergaulan yang buruk, kesenangan-kesenangan orang yang tidak mengenal Allah seperti menyaksikan CD porno dan lain sebagainya. Lebih baik tidak bergaul sama sekali ketimbang bergaul dengan orang fasik. Anda sebagai orang tua, perhatikanlah dan kontrol lingkungan pergaulan anak-anak Anda supaya ia tidak mencemari seisi keluarga seperti kedua putri Lot.


Bergaul dengan Allah adalah langkah bijaksana, supaya kekuarga anda diisi dengan Firman Tuhan sebagai terang yang menerangi seluruh hidup pribadi maupun keluarga.  Percayalah jika terang itu hadir dalam keluarga Anda, maka kegelapan, tindakan kekerasan, akan menyingkir dari hidup Anda. 

Tindakan Kekerasan Anak Secara Ekonomi



Landasan Firman  Tuhan terambil dari Kitab Kejadian 31:38-41, yang berbunyi demikian:
 “…Selama dua puluh tahun ini aku bersama-sama dengan engkau; domba dan kambing betinamu tidak pernah keguguran dan jantan dari kambing dombamu tidak pernah kumakan. Yang diterkam oleh binatang buas tidak pernah kubawa kepadamu, aku sendiri yang menggantinya; yang dicuri orang, baik waktu siang, baik waktu malam, selalu engkau tuntut dari padaku. Aku dimakan panas hari waktu siang dan kedinginan waktu malam, dan mataku jauh dari pada tertidur. Selama dua puluh tahun ini aku di rumahmu; aku telah bekerja padamu empat belas tahun lamanya untuk mendapat kedua anakmu dan enam tahun untuk mendapat ternakmu, dan engkau telah sepuluh kali mengubah upahku.

Firman Tuhan di atas adalah kisah pertengkaran antara Yakub dan Laban pamannya.  Mengapa terjadi pertengkaran itu? Untuk lebih jelasnya kronologi kejadiannya adalah demikian: Yakub berselisih keras dengan kakaknya Esau, untuk menghindari situasi lebih buruk maka Yakub diungsikan oleh Ishak ke rumah saudara istrinya yaitu Laban. Di rumah Laban inilah Yakub bekerja siang dan malam. Selama 7 tahun Yakub harus bekerja keras dengan upah yaitu Lea, kemudian ia harus bekerja keras lagi bagi Yakub untuk mendapatkan Rahel. Selama 6 tahun Yakub bekerja pada Laban namun tidak mendapatkan upah yang pantas seperti dari pengakuan Yakub kepada Laban dalam suatu pertengkaran puncak.  Dari pembacaan firman Tuhan ini dapat disimpulkan bahwa tindakan kekerasan secara ekonomi sudah terjadi kepada Yakub yang dilakukan oleh pamannya sendiri.  Di sini Laban berfungsi sebagai ayah pengganti Ishak, dan Yakub sebagai anak. Dari segi hubungan darah tidak sepantasnya Yakub harus bekerja untuk mendapatkan Rahel, tetapi itulah kenyataan bahwa selama 20 tahun Laban tidak berlaku adil kepada Yakub. Dari pembacaaan Kejadian 31:38–41 ini Yakub memrotes Laban bahwa Laban sudah melakukan ketidak adilan ekonomi kepadanya. Yakub sebagai anak keponakan sepantasnya dapat perlindungan kesejahteraan dari Laban karena itu merupakan tanggung-jawabnnya sebagai pengganti Ishak.  Tetapi kenyataan itu justru terbalik, Laban justru mengeksploitasi tenaga Yakub demi kepentingan dirinya.

Sosok Laban masa kini terlalu banyak. Di kota-kota besar sangat banyak model ayah seperti Laban ini mengeksploitasi anak-anaknya demi kepentingan dirinya.  Sebut saja di kota Jakarta, banyak anak-anak disuruh mengemis, disuruh mengamen dan tidak sedikit jumlahnya yang bekerja di pabrik-pabrik adalah anak-anak yang masih di bawah umur.  Yang lebih tidak masuk akal adalah anak-anak berubah fungsi menjadi pencari nafkah dan orang tua tenang-tenang di rumah menunggu anak-anaknya bekerja. Semua hasil dari perolehan anak-anak dalam bekerja diambil dan dimanfaatkan oleh orang tua untuk kesenangan pribadinya, anaknya hanya cukup makan dan minum seadanya. Kejadian seperti ini berlangsung bertahun-tahun banyak dialami oleh anak-anak di kota-kota besar dalam tingkat taraf ekonomi bawah. Lain halnya dengan anak-anak yang tingkat ekonomi menengah, tindakan kekerasan ekonomi juga kerap  kali terjadi. Orang tua sering memperalat anak putrinya sebagai umpan kepada Oom-oom, kepada lelaki hidung belang demi uang.  Perlakuan itu terus berlangsung dan orang tua bertindak sebagai germo terhadap anak-anaknya sendiri.
Syukur-syukur anaknya diberi uang dari hasil bekerja hina, tetapi kembali kepada perkataan tadi  eksploitasi tenaga terhadap anak-anak. Jadi tindakan kekerasan secara ekonomi kerap kali terjadi di bumi ini, sejak sejarah manusia ada.

Bagaimanakah situasi Anda sekarang ini, mungkinkah Anda adalah sosok orang tua yang selalu melakukan kekerasan ekonomi kepada anak-anak Anda!? Berubahlah karena Alllah tidak setuju dengan tindakan Anda.  Allah menghendaki supaya Anda sebagai orang tua memelihara anak-anak Anda dengan sebaik-baiknya.  Memberikan segala keperluannya termasuk kesejahteraan hidup (sandang, pangan dan papan).  Bukan hanya itu saja, Anda dituntut Allah untuk memberikan perhatian yang maksimal kepada anak-anak Anda, baik itu perhatian terhadap pendidikan, sosial dan segala keperluan anak-anak Anda baik materil maupun spiritual.  Semua kebutuhan keluarga Anda akan tercukupi jika Anda sebagai sosok orang tua bertanggung-jawab dan berdedikasi untuk melakukannya. Sesungguhnya Allahlah yang memelihara semua mahluk di bawah matahari ini, namun Ia mau melakukannya bekerjasama dengan manusia. Berhentilah untuk melakukan kekerasan ekonomi kepada anak-anak Anda, karena Tuhan memperhatikan semua tingkah laku umat manusia. Termasuk tingkah laku Laban kepada Yakub yang selama 20 tahun melakukan kekerasan ekonomi kepada Yakub.  Tiba pada masanya Tuhan membela dan menolong Yakub, yang akhirnya Yakub beserta anak-anaknya harus meninggalkan Laban karena mereka tidak tahan dengan perilaku Laban.  Laban harus terpisah dengan anak-anaknya serta cucunya dan hartanya harus diambil oleh Yakub dengan pertolongan Tuhan. Orang yang melakukan kekerasan akan beroleh kekerasan juga. Siapa melakukan kebaikan akan beroleh kebaikan. Tuhan adalah pembalas setiap perbuatan baik atau perbuatan jahat manusia.  Firman Tuhan pada Kitab Amsal 11:25-27 berkata, Siapa mengejar kebaikan, berusaha untuk dikenan orang, tetapi siapa mengejar kejahatan akan ditimpa kejahatan. Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum. Siapa menahan gandum, ia dikutuki orang, tetapi berkat turun di atas kepala orang yang menjual gandum.


Tindakan Kekerasan Anak Secara Emosi



Kekerasan terhadap anak sering dimengerti secara terbatas saja yaitu sebagai kekerasan fisik, dengan memukul, menendang atau yang menyakiti secara fisik.  Namun kekerasan kepada anak juga sering dilakukan dengan menyakiti  emosi anak.  Kekerasan secara emosi sering dilakukan oleh orang tua terhadap anaknya secara sadar mau pun tidak sadar.  Kekerasan secara emosi sama beratnya dengan kekerasan secara fisik. Kekerasan secara fisik dapat membunuh, kekerasan secara emosi juga dapat membunuh. 

Landasan Firman Tuham terambil dari Kitab  2 Samuel 14:23-33  yang demikian bunyinya,…
Lalu bangunlah Yoab, ia pergi ke Gesur dan membawa Absalom ke Yerusalem.
Tetapi berkatalah raja: "Ia harus pergi ke rumahnya sendiri, jangan ia datang ke hadapanku." Jadi pergilah Absalom ke rumahnya sendiri dan tidak datang ke hadapan raja.  Setelah Absalom diam di Yerusalem genap dua tahun lamanya, dengan tidak datang ke hadapan raja, maka Absalom menyuruh memanggil Yoab untuk diutus kepada raja. Tetapi ia tidak mau datang kepadanya. Kemudian disuruhnya memanggil dia lagi, untuk kedua kalinya, tetapi ia tidak mau datang.
Lalu berkatalah ia kepada hamba-hambanya: "Lihat, ladang Yoab ada di sisi ladangku dan di sana ada jelainya. Pergilah, bakarlah itu." Maka hamba-hamba Absalom membakar ladang itu. Lalu Yoab pergi mendapatkan Absalom ke rumahnya, dan bertanya kepadanya: "Mengapa hamba-hambamu membakar ladang kepunyaanku itu?" Jawab Absalom kepada Yoab: "Ya, aku telah menyuruh orang kepadamu mengatakan: datanglah ke mari, supaya aku mengutus engkau kepada raja untuk mengatakan: apa gunanya aku datang dari Gesur? Lebih baik aku masih tinggal di sana. Maka sekarang, aku mau datang ke hadapan raja. Jika aku bersalah, biarlah ia menghukum aku mati."

Apa itu kekerasan emosi? Kekerasan emosi adalah ketika anak membutuhkan perhatian tetapi orang tua tidak memenuhinya. Dari pembacaan ayat tadi, kita dapat melihat bahwa Daud melakukan kekerasan emosi kepada anaknya Absalom.  Kekerasan emosi yang bagaimanakah yang dilakukan Daud kepada anaknya Absalom?  Daud melarang anaknya Absalom menghadap dia, sementara Absalom sangat membutuhkan perhatian ayahnya setelah tiga tahun tidak berjumpa dengannya. Absalom waktu itu bersembunyi ke Gesur setelah peristiwa pembunuhan kakaknya Amnon.  Namun dalam pelariannya tentu ia merindukan ayahnya Daud, oleh Yoab akhirnya Absalom diperbolehkan kembali ke Israel, tetapi tidak diperkenankan menghadap Raja.  Dua tahun lamanya Absalom tidak menghadap raja atau dengan kata lain tidak berkomunikasi dengan ayahnya.  Peristiwa itu membuat sakit hati Absalom yang berujung pada pembakaran ladang Yoab.  Absalom berkata kepada Yoab, apa gunanya aku ada di Israel kalau tidak bisa berkomunikasi dengan ayah, kalau saya salah biarlah saya dihukum mati.  Pernyataan Absalom ini adalah pernyataan kerinduan akan perhatian sang ayah.

Daud secara tidak sadar telah menganiaya anaknya Absalom secara emosi.  Coba bayangkan selama dua tahun Absalom setelah dimaafkan oleh Daud mereka tidak saling berkomunikasi. Betapa tersiksanya Absalom, ia berada di Israel tetapi tidak bisa menghadap ayahnya.
Mengapa Daud melakukan itu? Kalau memang Daud melakukan disiplin, baik kiranya Absalom dihukum karena perbuatannya, tetapi bukan dengan cara memutuskan komunikasi.  
Waktu kecil saya pernah melakukan kesalahan kepada ayah saya, dan kesalahan saya tidak terlalu berat, yah bagaimana layaknya anak kecil.  Waktu itu ayah saya selama satu minggu sama sekali tidak bertegor sapa dengan saya. Saya merasa tersiksa, saya salah tingkah dan rasanya hendak minggat dari rumah. Tetapi karena saya tidak ada keberanian untuk itu yah saya bertahan saja dengan siksaan itu.

Perlakuan Daud terhadap Absalom yang tidak bertegor sapa, mungkin juga pernah Anda lakukan kepada anak-anak Anda.  Anak Anda mungkin menjengkelkan Anda berkali-kali dan tidak berubah, akhirnya Anda sangat amat jengkel dan melakukan aksi tutup mulut.  Perlakuan seperti itu adalah tindakan kekerasan secara emosi. Jika anak-anak Anda salah dan menjengkelkan, bijaksananya diberikan hukuman sesuai dengan kesalahannya. Ingat pernyataaan Absalom, jika saya salah biarlah saya dihukum mati. Artinya kekerasan emosi yang dialami oleh Absalom lebih sakit ketimbang disiksa secara fisik.  Banyak orang tua yang kurang menyadari hal ini.  Mungkin dengan cara aksi tutup mulut, anak-anak akan berubah dari sikapnya  yang salah. Justru hal itu tidak akan terjadi, malahan akan membuat kepahitan dalam diri anak-anak Anda. Membuat anak-anak Anda menjadi pemberontak, seperti Absalom menjadi pemberontak.

Janganlah memutuskan komunikasi dengan anak-anak Anda oleh karena pelanggaran mereka.  Sebagai orang tua yang bijak, lebih perwira memberikan sanksi kepada anak-anak jika mereka melakukan pelanggaran.  Jikalau mengasihi anak-anak Anda, maka tindakan kekerasan secara emosi tidak akan pernah Anda lakukan, karena hal itu bukanlah yang dikehendaki oleh Tuhan.  Bagaimana supaya kekerasan emosi tidak terjadi pada diri Anda, yaitu dengan Anda harus lebih mengasihi Tuhan ketimbang mengasihi diri Anda sendiri.   Membangun relasi yang baik dengan Tuhan adalah cara untuk menghindari kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga Anda.  Sebagai orang tua, tentulah Anda mengasihi  anak-anak Anda, dan untuk dapat mengasihi anak secara murni harus belajar dari Tuhan sang pencipta yang mengasihi umatNya secara tulus.  Firman Tuhan berkata,  Amsal 16:29 - Orang yang menggunakan kekerasan menyesatkan sesamanya, dan membawa dia di jalan yang tidak baik.




Tindak Kekerasan Pada Anak

Rumah adalah tempat kita berlindung dan berteduh mendapatkan cinta dan kasih sayang.  Tempat tumbuhnya kuncup-kuncup bunga untuk bermekaran, dan tempat mencecap manisnya madu dan susu.  Bukan tempat untuk mencabik-cabik kemanusiaan dan menghinakan cinta dengan ketundukan atas kekuasaan yang menindas.  Namun kita tidak dapat memungkiri kenyataan bahwa tindakan kekerasan kerap kali terjadi pada anak.  Orang tua yang diharapkan sebagai pelindung, tidak jarang menjadi algojo yang menyiksa anak-anaknya.  Kita sering menyaksikan tindakan kekerasan yang dilakukan oleh orang tua kepada anak-anaknya lewat media cetak dan media elektronik.  Apa yang menyebabkan tindakan kekerasan kepada anak dan apa akibatnya.

Tindakan kekerasan kepada anak sering terjadi karena penyembahan berhala.  Landasan Firman Tuhan terambil dari kitab 2 Raja-raja 21:1–8, yang demikian bunyinya”
Manasye berumur dua belas tahun pada waktu ia menjadi raja dan lima puluh lima tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah Hefzibah. Ia melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, sesuai dengan perbuatan keji bangsa-bangsa yang telah dihalau TUHAN dari depan orang Israel. Ia mendirikan kembali bukit-bukit pengorbanan yang telah dimusnahkan oleh Hizkia, ayahnya; ia membangun mezbah-mezbah untuk Baal, membuat patung Asyera seperti yang dilakukan Ahab, raja Israel, dan sujud menyembah kepada segenap tentara langit dan beribadah kepadanya. Ia mendirikan mezbah-mezbah di rumah TUHAN, walaupun sehubungan dengan rumah itu TUHAN telah berfirman: "Di Yerusalem Aku akan menaruh nama-Ku!" Dan ia mendirikan juga mezbah-mezbah bagi segenap tentara langit di kedua pelataran rumah TUHAN. Bahkan, ia mempersembahkan anaknya sebagai korban dalam api, melakukan ramal dan telaah, dan menghubungi para pemanggil arwah dan para pemanggil roh peramal. Ia melakukan banyak yang jahat di mata TUHAN, sehingga ia menimbulkan sakit hati-Nya.

Alkitab mencatat bahwa Manasye melakukan tindakan kekerasan kepada anaknya.  Manasye mempersembahkan anaknya sendiri sebagai korban dalam api.  Apa yang dilakukan oleh Manasye ini adalah tindakan kekerasan secara fisik. Untuk diketahui, tindakan kekerasan secara fisik yaitu antara lain: memukul, menendang, menelanjangi, meludahi, mengikat, memasung atau menyulut  dengan api rokok bahkan membakar dan membunuh.  Apa yang melatar-belakangi Manasye sehingga ia rela melakukan kekerasan kepada anaknya sendiri?  Manasye melakukan kekerasan kepada anaknya dilatar-belakangi dengan pemberontakannya kepada Tuhan dan beribadah kepada berhala.  Dapat disimpulkan, bahwa tindakan kekerasan Manasye terhadap anaknya adalah sebagai akibat dari dosa yang dilakukannya.  Manasye tidak lagi memiliki pikiran yang sehat, karena berhalanya yang memerintah di dalam dirinya.  Kebenaran tidak ada lagi bersamanya sehingga ia tidak dapat melakukan kebenaran.  Ia bersekutu dengan kegelapan maka ia pun  bertindak sesuai dengan petunjuk dari kegelapan itu. Ia melakukan ramal dan telaah dan menghubungi pemanggil arwah, dimana hal ini dipandang Tuhan sebagai kejahatan.


Tindakan kekerasan secara fisik terhadap anak-anak dalam rumah tangga masa kini, sering  juga disebabkan karena penyembahan berhala.  Demi kekayaan, anak sendiri sering menjadi tumbal dengan cara diperjual-belikan tanpa memikirkan penderitaan anak.  Demi harga diri, anak yang lahir di luar nikah sering menjadi korban pembunuhan.  Demi harga diri, anak yang cacat sering menerima penyiksaan dan sasaran emosional dalam rumah tangga.

Kalau dicermati sejarah Manasye raja Yehuda melakukan tindakan kekerasan, sesungguhnya karena ia menjauh dari Tuhan. Orang yang menjauh dari Tuhan tidak akan pernah melakukan kebenaran, mengapa? Karena yang menjadi bapanya adalah iblis. Iblislah yang mengajarnya, mendorongnya untuk melakukan segala kejahatan. Iblis tidak mewarisi kelembutan tetapi kekerasan.  Hanya Tuhanlah yang memiliki kelembutan dan kasih.  Jadi jika seseorang bersahabat dengan berhala, dipastikan ia akan mewarisi kekerasan.  Dalam beberapa kesaksian para orang tua yang melakukan kekerasan kepada anaknya saat diinterogasi, mereka berkata, ketika saya melakukan kekerasan terhadap anak saya, saya tidak menyadarinya. Ada juga yang berkata, ketika saya membunuh anak saya, saya mendengar bisikan halus yang mendorongnya untuk melakukan kekerasan. Dari kesaksian ini, percaya atau tidak percaya yang penting adalah, bahwa setiap orang yang bersekutu dengan kuasa kegelapan, ia tidak dapat melakukan apa yang ada di dalam terang.

Jika Anda saat ini kerap kali melakukan tindakan kekerasan kepada anak-anak Anda, apakah itu kekerasan ringan atau berat, ketahuilah dan sadarilah bahwa Anda sedang tidak dikuasai Roh Tuhan. Apakah anda berpredikat sebagai majelis,  aktivis atau pemuka agama, jika kekerasan kerap kali Anda lakukan sesungguhnya Anda sama dengan Manasye raja Yehuda yang bersekutu dengan berhala. Anda tidak akan pernah menikmati kebahagiaan bersama dengan keluarga Anda.  Anda akan selalu merasa bersalah tapi tidak bias menghentikan kekerasan itu sendiri.  Bagaimana caranya supaya kekerasan yang Anda lakukan terhadap anak Anda dapat dihentikan. Caranya hanya satu yaitu menjauhkan berhala dari hidup Anda, seperti Manasye. Apa yang menjadi berhala bagi hidup Anda masa kini.  Apakah harta? Kedudukan, kekuasaan, harga diri, uang atau wanita? Jika berhala itu masih menyatu maka Anda tidak akan pernah bisa lepas dari sikap kekerasan.  Paulus selalu melakukan kekerasan kepada umat Tuhan, tetapi ketika ia berjumpa dengan Yesus, dia lalu menyadari bahwa perbuatannya ternyata salah. Jadi bagi Anda yang perlu sekarang adalah mencari Tuhan seperti yang dilakukan oleh Manasye maka Tuhan memulihkan keadaannya. Firman Tuhan dalam II Tawarikh 7:14 berkata,  dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka.


Paulus Pendidik Onesimus Seri II



Membangun Harga Diri Anak.  Kalau anak tidak merasa berarti, tidak berharga maka anak akan menciptakan sendiri perilaku yang sebenarnya bukanlah perilakunya.  Seorang anak pendiam, tiba-tiba bisa berubah menjadi anak yang kasar, seorang anak yang tulus tiba-tiba bisa berubah menjadi anak yang sombong, angkuh.  Keadaan ini adalah sebagai kompensasi dari sikap anak yang tidak mendapat tempat baik itu di dalam keluarga mau pun dalam masyarakat.  Maka, sering terjadi bahwa oragn tua bingung dan berkata;  dulu si A ini tidak seperti ini, kok sekarang bisa berubah drastis.

Surat Paulus kepada Filemon menjelaskan bahwa Paulus meminta kepada Filemon supaya bersedia kembali menerima Onesimus hambanya yang melarikan diri dari padanya, dan yang berjumpa dengan Paulus di penjara.  Paulus sudah yakin benar bahwa dengan bimbingannya Onesimus banyak mengalami perubahan.  Untuk itu Paulus meminta Filemon menerima Onesimus  bukan lagi sebagai hamba tapi sebagai saudara yang kekasih.   Paulus dalam mendidik Onesimus melihat bahwa harga diri Onesimus harus dibangun, karena Paulus tahu disitulah sumber penyebab kerusakan mental Onesimus.  Onesimus berstatus sebagai hamba,  tidak berhak atas dirinya, tetapi yang berhak adalah tuannya Filemon, tentunya dia tertekan dengan keberadaan dirinya.  Keterpasungan mental Onesimus dapat menjadi pemicu bagi dirinya untuk memiliki mental yang tidak baik.  Tetapi syukur bagi Onesimus karena berjumpa dengan sang pembimbing yang handal.  Paulus mengangkat harkat dan martabat Onesimus di hadapan Paulus dan juga di hadapan Filemon.

Manusia dilahirkan bukanlah untuk ditindas tetapi untuk berkreasi.  Ketika manusia kehilangan kebebasan untuk menampilkan jati dirinya kepada dunia maka besar kemungkinan orang akan memberontak dan akan timbul kepermukaan yaitu kepada masyarakat.  Saya pernah membimbing satu keluarga, yang mana anaknya hilang meninggalkan mereka.  Keluarga ini sudah berusaha untuk mencari anaknya tetapi tak kunjung ketemu.  Saya menyelidiki ternyata keluarga ini hanya punya 2 anak dan keduanya adalah laki-laki.  Rupanya anak yang pertama ini selalu mendapat apresiasi sedangkan anak yang kedua ini selalu tertekan harga dirinya dengan kritikan, ejekan.  Keadaan inilah yang membuat  anak ini kabur dari rumah karena harga dirinya tertekan.

Ketika anak merasa harga dirinya runtuh dalam rumah tangga, maka dijamin anak akan memiliki sifat pemberontak.  Anak akan memiliki sifat-sifat yang jahat sebagai kompensasi tak berharganya dirinya di hadapan keluarga bahkan hal itu terbawa kepada masyarakat.  Jika Anda sebagai orang tua, bangunlah harga diri anak-anak Anda, jauhkanlah kata-kata kritikan, memojokkan, dan mengejek.  Kata-kata itu tidak pernah membangun harga diri seseorang.  Ingat Paulus, dia membangun harga diri Onesimus, dari seorang budak Filemon diangkat harga dirinya menjadi seorang saudara kekasih di dalam Tuhan.  Siapa orangnya yang tidak rindu diperlakukan seperti itu, semua orang rindu untuk diperlakukan sebagai manusia. 



Menebus Kesalahan Anak.  Paulus dalam suratnya kepada Filemon berkata, Dan kalau dia sudah merugikan engkau ataupun berhutang padamu, tanggungkanlah semuanya itu kepadaku  aku, Paulus, menjaminnya dengan tulisan tanganku sendiri: Aku akan membayarnya -- agar jangan kukatakan: "Tanggungkanlah semuanya itu kepadamu!" -- karena engkau berhutang padaku, yaitu dirimu sendiri.
Paulus sebagai pendidik Onesimus dalam penjara, rela menanggung semua utang-utang Onesimus kepada Filemon.  Artinya Paulus mau menebus kesalahan dari Onesimus. Ada satu cerita, adalah seorang anak yang miskin berteman dengan anak seorang kaya.  Anak orang miskin ini semula baik, tetapi semenjak bergaul dengan anak orang kaya ini, maka dia terpengaruh dengan perilakunya.  Suatu ketika mereka mencuri dan sialnya mereka tertangkap tangan.  Kedua bersahabat ini dimasukkan ke dalam penjara.  Anak orang kaya tersebut tidak lama mendekam dalam penjara, karena ditebus dengan uang oleh orang tuanya.  Si anak tukang batu ini mendekam dalam penjara karena tidak ada uang untuk menebus ketika itu.  Ibunya tukang batu harus bekerja satu bulan untuk mendapatkan sejumlah uang untuk menebus anaknya.  Setelah tiba waktu bahwa uang ibu ini terkumpul, dan ia menebus anaknya.  Anaknya bebas dari penjara, tetapi anaknya melihat ada perubahan yang terjadi pada tangan ibunya yaitu kapalan dan luka-luka karena harus memeras  tenaga untuk mendapatkan sejumlah uang.   Anak ini menangis, karena perilakunya, orang tuanya harus menebus kesalahannya dan ia berubah.  Suatu kali sahabatnya itu datang mengajaknya untuk melakukan yang sama, anak ini menolak dan berkata.  Kamu ditebus orang tuamu begitu mudah, tetap tangan ibuku harus kapalan dan luka-luka untuk menebus saya.

Perlakuan Paulus terhadap Onesimus dalam hal segala kesalahan Onesimus ditanggungkan kepada Paulus, itu dapat menyentuh emosi Onesimus yang mendorong dia untuk hidup berubah.  Paulus begitu yakin akan perubahan Onesimus, sehingga membuat dia berani mengembalikan Onesimus kepada Filemon. 

Kira-kira sejauh mana kejahatan anak-anak Anda, sejauh mana Anda menderita diakibatkan perilaku anak-anak Anda, mungkin hanya Anda yang tahu.  Tetapi jika Anda penuh kasih, bersedia  menerima perilaku anak-anak Anda yang buruk, mengampuninya serta bersedia menanggung atas kesalahan anak-anak Anda jauh lebih baik ketimbang Anda membuang, menyingkirkan, atau tidak mengakuinya sebagai anak.  Anda sebagai orang tua dapat berfungsi sebagai imam bagi anak-anak Anda.  Anda harus siap siang dan malam berdoa bagi anak-anak Anda yang berperilaku buruk.  Kesabaran dan kasih Anda akan menjadi perhitungan bagi Tuhan untuk mengubah perilaku anak-anak Anda.  Anda akan mendapat jawaban dari Tuhan atas pergumulan Anda, dan sebagai orang tua yang bertanggung-jawab, Anda akan mendapat upah dari Tuhan, baik di bumi ini mau pun  di sorga.  Dengan membangun harga diri anak dan menebus kesalahannya maka anak-anak anda akan berubah.  Sama seperti Onesimus yang berubah karena Paulus mengangkat harga diri Onesimus dan menanggung semua utang maupun kesalahan dari Onesimus.  Paulus menempatkan diri sebagai orang tua Onesimus.



Paulus Pendidik Onesimus

Kenakalan anak sering membuat para orang tua pusing dan bingung.  Lebih-lebih jika kenakalan anak sudah melebih batas yang sewajarnya, tidak sedikit para orang tua mengusir, bahkan sampai bersumpah tidak mengakuinya sebagai anak.  Jadilah anak kepahitan yang  menggelandang dan melakukan kejahatan demi kejahatan.  Bagi orang tua yang menyaksikan anaknya terjun dalam kejahatan, tetap saja merasa malu bahwa anaknya keluar masuk penjara.  Sekalipun  orang tua sudah tidak mengakuinya sebagai anak,  tetapi pandangan masyarakat tetap saja mengatakan bahwa itu adalah anaknya.  Memutuskan hubungan dengan anak  tidak menjadi solusi terhadap kejahatan anak, itu namanya pelarian dari tanggung-jawab sebagai pendidik.  Tapi, sebagai pendidik yang bertanggung-jawab akan terus mencari solusi  bagaimana anaknya supaya kembali ke jalan yang benar.  Paulus menjadi  satu teladan bagi kita bagaimana mendidik anak yang tidak berguna  lagi menjadi berguna.

Landasan Firman Tuhan terambil dari Kitab Filemon yang berbunyi demikian: Aku, Paulus, yang sudah menjadi tua, lagipula sekarang dipenjarakan karena Kristus Yesus, mengajukan permintaan kepadamu mengenai anakku yang kudapat selagi aku dalam penjara, yakni Onesimus dahulu memang dia tidak berguna bagimu, tetapi sekarang sangat berguna baik bagimu maupun bagiku. Dia kusuruh kembali kepadamu  dia, yaitu buah hatiku. Sebab mungkin karena itulah dia dipisahkan sejenak dari padamu, supaya engkau dapat menerimanya untuk selama-lamanya, bukan lagi sebagai hamba, melainkan lebih dari pada hamba, yaitu sebagai saudara yang kekasih Dan kalau dia sudah merugikan engkau ataupun berhutang padamu, tanggungkanlah semuanya itu kepadaku. aku, Paulus, menjaminnya dengan tulisan tanganku sendiri: Aku akan membayarnya -- agar jangan kukatakan: "Tanggungkanlah semuanya itu kepadamu!" -- karena engkau berhutang padaku, yaitu dirimu sendiri.
Dari Kitab Filemon ini kita belajar 4 hal dari Paulus tentang  mendidik anak yang tidak berguna menjadi berguna.  Pertama, mengakui anak sebagai anak.   Paulus menyurati Filemon, karena Onesimus adalah hamba Filemon yang lari dari padanya karena utang yang tidak dapat dibayar oleh Onesimus, yang akhirnya Onesimus masuk penjara dan ketemu dengan Paulus di penjara.  Dalam ayat 10 Paulus mengakui Onesimus yang tidak berarti lagi bagi Filemon namun diakui oleh Paulus sebagai anak yang begitu berarti baginya.  Sikap Paulus yang mengasihi Onesimus sebagai anak, inilah satu kekuatan yang dapat merubah hati Onesimus menjadi baik.  Sikap Paulus ini menyembuhkan luka dan duka yang ada di dalam hati Onesimus, seiring kesembuhan luka dan duka inilah yang membuat perubahan hidup bagi Onesimus.

Kenakalan anak akan berubah menjadi kejahatan tatkala orang tua tidak memahami kenakalan anak tersebut.  Tidak sedikit orang tua menjadi gusar dan tidak suka terhadap tingkah laku anak yang menurut orang tua meresahkan dia.  Keadaan seperti ini, artinya ketidak-relaan menerima kenakalan anak  bisa berubah menjadi tidak memperlakukan anak sebagai anak.  Ciri-ciri orang tua yang sering tidak memperlakukan anak sebagai anak adalah sering melemparkan kritikan, ejekan dan sikap sinis.  Nah sikap inilah yang menghantarkan kenakalan anak kepada kejahatan anak. 
Apakah Anda mampu bersikap seperti Paulus yang mengakui Onesimus yang tidak berguna bagi orang lain dan dia mengakuinya sebagai anak yang sangat berguna, atau sebaliknya. Tuhan Yesus dalam perumpamaan anak yang hilang yang ditulis dalam Kitab Injil Lukas pasal 15 menceritakan bahwa anak yang hilang yang tidak berguna ini selalu ditunggu atau dinanti-nantikan oleh Bapanya untuk kembali.  Ketika sibungsu kembali bapanya membuat suatu  pesta karena yang hilang telah didapatinya kembali. Perumpamaan ini menasehati kita agar tetap memperlakukan anak sebagai anak, sekali pun untuk sementara memang mendukakan kita sebagai orang tua.  Itu satu-satunya solusi yang terbaik dalam mendidik anak-anak kita.  Jika anak-anak kita nakal, mereka sangat membutuhkan bimbingan dari kita orang tuanya.  Bukan menyingkirkan atau tidak memperdulikan mereka.  Firman Tuhan berkata, di Matius 9:12  "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit.”
Onesimus sangat tepat berjumpa dengan Paulus yang dapat memberi terapi bagi Onesimus.  Setelah sekian lama Onesimus dididik di Penjara oleh Paulus, dan Paulus melihat secara cermat bahwa Onesimus sudah mengalami perubahan, Onesimus sudah sembuh dari penyakit lamanya, yang lama sudah berlalu dan sesungguhnya yang baru sudah datang, maka Paulus berani menyurati Filemon tuannya Onesimus,  untuk menerimanya kembali sebagai saudara yang  terkasih dan bukan lagi sebagai hamba. 

Apakah Anda mempunyai anak seperti Onesimus atau bahkan lebih parah dari Onesimus? Bila Anda meniru gaya Paulus yang memperlakukan Onesimus sebagai anaknya bahkan dikatakan sebagai buah hatiku, yakinlah bahwa anak-anak Anda akan berubah.  Mereka itu butuh kasih sayang dan perhatian Anda.  Kehampaan perhatian dan kasih sayang Anda membuat mereka berlaku tidak baik yang tidak diharapkan oleh Anda sebagai orang tua. Mereka melakukan serangkaian kenakalan karena mereka ingin memancing perhatian Anda, tetapi mereka tidak mendapatkannya lalu mereka kecewa dan pergi menjauh dari Anda dan melakukan serangkaian kejahatan-kejahatan.


Wednesday, June 11, 2014

Pendidikan Lewat Iman Yang diejawantahkan



Surat Yakobus 2:17 berkata, Jika iman tanpa disertai perbuatan pada hakekatnya mati.  Seseorang dapat dikatakan beriman dilihat dari imannya yang terwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.   Iman yang diwujudkan inilah yang dapat dilihat oleh sesama yang bermanfaat untuk mendidik dan bermanfaat bagi hal lainnya.  Seseorang yang beriman kepada Allah, tentunya akan memahami Firman Allah dan Firman Allah yang dipahami inilah yang diwujudkan sehingga dapat dilihat dan dirasakan oleh sesama.  Dalam Alkitab ada begitu banyak inpirasi bagi kita dalam mendidik anak-anak. 

Landasan Friman Tuhan terambil dari Kitab Keluaran 2:1-9  yang berbunyi demikian,   Seorang laki-laki dari keluarga Lewi kawin dengan seorang perempuan Lewi;  lalu mengandunglah ia dan melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika dilihatnya, bahwa anak itu cantik, disembunyikannya tiga bulan lamanya. Tetapi ia tidak dapat menyembunyikannya lebih lama lagi, sebab itu diambilnya sebuah peti pandan, dipakalnya dengan gala-gala dan ter, diletakkannya bayi itu di dalamnya dan ditaruhnya peti itu di tengah-tengah teberau di tepi sungai Nil;  kakaknya perempuan berdiri di tempat yang agak jauh untuk melihat, apakah yang akan terjadi dengan dia. Maka datanglah puteri Firaun untuk mandi di sungai Nil, sedang dayang-dayangnya berjalan-jalan di tepi sungai Nil, lalu terlihatlah olehnya peti yang di tengah-tengah teberau itu, maka disuruhnya hambanya perempuan untuk mengambilnya. Ketika dibukanya, dilihatnya bayi itu, dan tampaklah anak itu menangis, sehingga belas kasihanlah ia kepadanya dan berkata: "Tentulah ini bayi orang Ibrani." Lalu bertanyalah kakak anak itu kepada puteri Firaun: "Akan kupanggilkah bagi tuan puteri seorang inang penyusu dari perempuan Ibrani untuk menyusukan bayi itu bagi tuan puteri?"  Sahut puteri Firaun kepadanya: "Baiklah." Lalu pergilah gadis itu memanggil ibu bayi itu. Maka berkatalah puteri Firaun kepada ibu itu: "Bawalah bayi ini dan susukanlah dia bagiku, maka aku akan memberi upah kepadamu." Kemudian perempuan itu mengambil bayi itu dan menyusuinya.

Seorang laki-laki yang dimaksud dalam kitab Keluaran pasal 2 ini adalah seseorang yang bernama Amran dari keluarga Lewi, dan seorang perempuan Lewi yang tersebutkan itu adalah Yokhebed.  Alkitab mencatat bahwa Amran dan Yokhebed adalah dari keluarga Lewi.  Dalam Perjanjian Lama orang Lewi adalah orang yang bertugas khusus dalam menyelenggarakan  ibadah di Bait Suci.  Berangkat dari kata ini, dapat diterjemahkan bahwa Amran dan Yokhebed yang melahirkan Musa adalah orang yang hidup tekun dalam wilayah keagamaan yang kita kenal dengan orang yang mengerti kebenaran.

Firman Tuhan di atas menceritakan bahwa orang Israel yang tinggal di Mesir sedang mengalami tekanan dari Firaun. Waktu itu orang Israel hendak dibatasi perkembang-biakannya.  Muncullah perintah Firaun untuk membunuh setiap bayi laki-laki yang baru lahir.   Pada saat perintah itu berlaku di Mesir, Yokhebed melahirkan seorang bayi yang cantik.

Dari  kitab Keluaran 2:1-9 ini kita dapat belajar bagaimana Amran dan Yokhebed mewujudkan imannya dan menjadi berkat  bagi bangsa Israel.  Di sini kita belajar satu hal yaitu Keberanian  Amran dan Yokhebed untuk melindungi anaknya. Perintah Firaun adalah perintah yang harus dipatuhi, dan barang siapa yang tidak mematuhi berarti kematian akan menjadi hukumannya.  Amran dan Yokhebed berani mempertaruhkan ancaman  itu selama tiga bulan dengan menyembunyikan bayinya.  Bayangkan saudara, Amran dan sekeluarga harus menanggung tekanan batin selama tiga bulan demi memberi perlindungan bagi anaknya yang sedang terancam nyawanya.  Apa yang dapat dipetik dari pelajaran sejarah ayah Musa  ini adalah keberanian Amran dan Yokhebed (orang tua Musa) yang dapat dilihat oleh kedua anaknya yaitu Harun dan Maryam.  Lewat praktek iman ini, Amran dan Yokhebed mendidik secara non formal kedua anaknya untuk memiliki sifat pemberani dalam melakukan kebenaran yaitu melindungi orang sekalipun nyawa terancam.

Apakah Anda sebagai orang Lewi, aktivis gereja atau anggota jemaat biasa?  Saat mengalami ancaman bagi keluarga Anda, beranikah Anda mengambil resiko mati sekali pun demi keselamatan keluarga?  Atau, anda seperti Yakub yang bersembunyi di seberang sungai Yordan karena ketakutan terhadap ancaman Esau kakaknya?  Dimana letak iman Yakub? Apakah iman itu hanya sebatas teori-teori agama saja?  Orang yang beriman itu percaya kepada pertolongan Tuhan, sekali pun kelihatannya hidup kita ini sudah di ujung tanduk.  Itulah iman ayah Musa yang diwujudkan, dan disaksikan oleh kedua anak-anaknya. Perwujudan iman orang tua Musa menjadi sarana pendidikan bagi anak-anaknya tentang perlindungan dan pemeliharaan Tuhan.  Tidak heran, kalau ketiga anak-anak Amran dan Yokhebed memiliki keberanian yang tiada tara.  Harun, Maryam dan Musa  terkenal  sebagai orang-orang yang melayani Tuhan dan memiliki keberanian yang tinggi dalam mengiring bangsa Israel keluar dari tanah Mesir.  Harun, Maryam dan Musa sudah menyaksikan keberanian orang tuanya itu lahir dari iman kepada Tuhan.  Ibrani 11:23 berkata,  Karena iman maka Musa, setelah ia lahir, disembunyikan selama tiga bulan oleh orang tuanya, karena mereka melihat, bahwa anak itu elok rupanya dan mereka tidak takut akan perintah raja.  Amran dan Yokhebed mengejawantahkan imannya sehingga berangkat dari sanalah timbul keberaniannya yang begitu besar.

Beriman kepada Tuhan akan menjadikan Anda menjadi  orang tua yang melindungi anak-anak dari mara bahaya.  Anda tidak akan menjadi orang tua yang mudah ketakutan, mudah putus asa dan menyerah jika ada ancaman terhadap keluarga Anda.  Tidak menjadi ketakutan jika ancaman ekonomi melanda keluarga Anda. Tetapi, orang yang tidak beriman adalah orang yang mudah putus asa dan melepaskan tanggung-jawab untuk memberi perlindungan kepada anak-anak.  Tidak sedikit orang tua yang menelantarkan, mengabaikan dan tidak memelihara anak-anaknya karena ancaman.   Jika sifat itu menjadi watak dari orang tua, maka anak-anak Anda  akan belajar dari Anda, dan ia akan tumbuh seperti Anda dan bahkan bisa lebih bauruk dari pada itu.  Keberanian Amran dan Yokhebed yang diilhami imannya kepada Tuhan, memberi didikan kepada ketiga anaknya menjadi orang yang berani melakukan tindakan diatas kebenaran


Iman yang diaplikasikan oleh Amran ayah Musa menjadi pendidikan secara tidak langsung kepada ketiga anak-anaknya dan yang juga membentuk mereka menjadi anak-anak yang bertumbuh dan memiliki iman.