Monday, June 30, 2014

Monogami bukan Poligami

Berbicara tentang monogami dan poligami tentunya sebagian di antara kita sudah mengerti artinya.  Monogami yaitu sistem yang hanya memperbolehkan seorang laki-laki mempunyai satu istri; sedangkan poligami adalah sistem perkawinan yang salah satu pihak memiliki atau mengawini beberapa lawan jenisnya.  Kalau ada pertanyaan kepada Anda seperti ini, manakah  yang paling anda sukai, monogami atau poligami? Mungkin sebagian di antara Anda menjawab: monogamy, dan sebagian juga diantara anda menjawab: poligami.  Jawaban Anda yang berbeda-beda itu  tentunya punya alasan sendiri bukan? Apakah jawaban itu subjektif atau objektif?  Pembenaran mengenai monogami dan poligami jika ditinjau dari alasan pribadi maka tidak heran kalau kita menemukan perselisihan yang tajam antara pro monogami dan pro poligami. Dialog antara pro monogami  dan pro poligami tidak pernah bertemu pada satu titik persamaan.   Masing-masing akan sepenuhnya membenarkan pandangannya sendiri.  Sesungguhnya  bagaimana pandangan Allah mengenai monogami dan poligami? Inilah sebenarnya yang harus dipertanyakan, bukan bolehkah berpoligami?
Ketika Yesus ditanya oleh orang Farisi: "Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?" Apa jawab Yesus? Dia tidak menjawab boleh dan tidak, akan tetapi Yesus mengembalikan pertanyaan itu kepada pemahaman orang Farisi mengenai Firman Allah yang mereka geluti setiap hari.  Demikian juga dengan pertanyaan bolehkah berpoligami? Maka saya pun tidak menjawab boleh atau tidak, akan tetapi saya akan mengajak anda untuk mempelajari kembali  apa kata firman Allah mengenai pertanyaan itu. Kitab Kejadian pasal 1:27-28 berkata,  1:27 Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.
1:28 Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranak-cuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi.”  Pada ayat ini kita menemukan hal yang prinsip mengenai monogami dalam pernikahan. Ayat ini tidak menjelaskan bahwa  Allah  menciptakan satu laki-laki dan banyak perempuan, akan tetapi Allah menciptakan satu laki-laki dan satu perempuan yaitu Adam dan Hawa.  Kemudian ayat 28 menjelaskan Allah mempersatukan dan  memberkati satu laki-laki dan satu perempuan. Apakah anda puas dengan penjelasan ayat ini? Atau masih belum,  atau mungkin dalam hati anda muncul alasan demikian?  Waktu itu kan manusia hanya dua yaitu Adam dan Hawa, sekarang kan beda!  Yah! Wajarlah kalau sekarang manusia berpoligami!  Betul, waktu itu memang manusia hanya Adam dan Hawa, tetapi dari ayat ini kita mendapat penjelasan bahwa rencana dan kehendak Allah bagi manusia adalah monogami. Itulah sebabnya Allah menciptakan satu laki-laki dan satu perempuan. Kalau kehendak Allah seperti kehendak manusia zaman sekarang ini, tentunya Allah menciptakan satu laki-laki dan banyak  perempuan, atau banyak laki-laki dan satu perempuan. Jadi prinsip yang dapat ditarik dari pelajaran di Kitab Kejadian pasal 1 ini adalah: dari sejak semula Allah berkenan dengan sistem monogami bukan poligami!  Artinya, hubungan suami isteri yang Tuhan maksud adalah hubungan antara satu laki-laki dan satu perempuan. Mengenai monogami dan poligami itu sudah menjadi kasus yang tidak dapat dipecahkan hingga saat ini lewat perdebatan/dialog, itulah sebabnya ketika orang Farisi ingin memancing perdebatan dengan Yesus mengenai kasus perceraian, Yesus tidak melayani maksud orang Farisi itu.
Yesus memberi solusi lewat Firman Tuhan yang  orang farisi fahami secara teoritis. Perdebatan mengenai perceraian dan poligami adalah suatu perdebatan yang hangat, suatu perdebatan yang emosional, mengapa? Karena di sana ada kepentingan dan kenikmatan duniawi yang tidak  dapat dipisahkan dari orang-orang yang tidak dapat menahan hawa nafsunya.

Selanjutnya mari kita pelajari Alkitab dari Injil Matius pasal 19:5,6  demikian Firman Tuhan: ”Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."    Ayat ini benar-benar meneguhkan kita bahwa Tuhan menginginkan pernikahan yang sifatnya monogami. Di situ tertulis, "Mereka bukan lagi dua, melainkan satu”.  Bukan tiga jadi satu atau empat jadi satu, seperti dalam poligami. Dalam ayat ini juga dinyatakan bahwa perceraian tidak pernah ada dalam kamus Allah. Apa yang dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia. Apakah Anda dapat menerima penjelasan ini?  Atau mungkin Anda mengejar saya lagi dengan pertanyaan? Kalau begitu mengapa Allah mengizinkan Abraham, Yakub bahkan Daud, Salomo berpoligami? Dan  mengapa Musa memberikan surat cerai? Kalau dalam benak Anda bertanya demikian, maka pertanyaan Anda hampir sama dengan pertanyaan: mengapa Allah mengizinkan manusia memakan  pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu? Dari sejak penciptaan, Allah menciptakan manusia dengan kehendak bebas, bebas memilih yang baik dan yang jahat.  Pada prinsipnya Allah memberikan FirmanNya untuk melindungi manusia untuk tidak memilih yang jahat. Dalam kasus perceraian dan poligami, Allah juga sudah memberikan FirmanNya kepada manusia mengenai kehendak Allah yang baik dan yang mulia mengenai monogami,  tetapi dalam sejarah Perjanjian Lama hingga kini ternyata manusia banyak memilih kehendaknya sendiri, bukan kehendak Allah. Manusia menjalankan pikirannya sendiri bukan mengikuti pikiran Allah.  Oleh karena manusia menjalankan dan mengikuti pikirannya sendiri, itulah sebabnya damai sejahtera Allah yang Allah rencanakan kepada manusia terusir dari dalam hidupnya, bahkan manusia sama seperti Adam terusir dari kedamaian dan kenyamanan di Taman Eden karena tidak mengikuti pikiran Allah dengan kehendak bebasnya. Apa pun alasan kita untuk berpoligami, apakah  argumentasi kita masuk akal  atau dapat diterima sekian banyak orang, atau berpoligami sudah diterima dalam suatu masyarakat tertentu dan syah secara hukum, namun itu bukanlah batu ujian yang tepat bahwa itu adalah benar. Suatu batu ujian yang murni adalah sejauh mana Anda dan pasangan Anda dan anggota rumah tangga Anda dan masyarakat menikmati damai sejahtera.   Sejauh mana pasangan Anda secara spontan bersukacita tatkala Anda beritahukan bahwa sebentar lagi Anda akan memperoleh isteri atau suami yang baru?  Sejauh mana anak-anak Anda secara spontan bersukacita, berjingkrak-jingkrak, tatkala mendengar bahwa  papa atau mamanya akan menikah lagi. Atau sejauh mana Anda sendiri bersukacita/damai sejahtera tatkala mendengar pasangan Anda akan menikah lagi?  Kalau memang perasaan itu yang dirasakan oleh setiap orang, maka berpoligami merupakan hal yang baik. Tetapi kalau sebaliknya yang terjadi, maka berpoligami merupakan hal yang tidak baik. Segala sesuatu diuji oleh hati nurani bukan berdasarkan teori-teori agama yang sudah disalah tafsirkan. Allah berbicara juga melalui hati nurani. Kalau Anda tergoda untuk berpoligami, mari pelajari Firman Allah! Dan dengarkanlah hati nurani Anda jangan rasio Anda, maka Anda akan dapat mengambil sikap yang obyektif dan tentunya akan menyelamatkan Anda dan keluarga! Sekali lagi Allah menghendaki monogami bukan poligami.

Keluarga Yang Melayani Tuhan

Hidup hanya untuk diri sendiri sesungguhnya bukan hidup, karena hal itu melawan kodrat manusia.  Mengapa dikatakan demikian? Karena kodrat manusia adalah saling membutuhkan satu dengan yang lainnya.  Manusia hidup saling melengkapi, manusia hidup saling memberi dan menerima, hal ini sudah menjadi realita hidup dan tidak ada satu manusia super pun di dunia ini yang dapat menentangnya. Manusia tidak dapat mengisolir diri dari manusia lainnya kecuali kalau ia ingin membunuh diri sendiri.  Berdasarkan kodrat manusia yang saling membutuhkan ini, kita dapat berkata bahwa manusia dipanggil oleh Tuhan untuk melayani.  Dalam konteks keluarga misalnya, suami dipanggil untuk melayani isteri dan anak-anak, isteri dipanggil untuk melayani suami dan anak-anak, dan anak-anak dipanggil untuk melayani orang tua.   Itulah inti hidup. Namun ada hal yang perlu direnungkan, seperti apakah Keluarga Yang Melayani Tuhan itu.?
Kita akan belajar dari Firman Allah yang terambil dari Yohanes 11:1–5, dan pasal 12:1-3 
11:1 Ada seorang yang sedang sakit, namanya Lazarus. Ia tinggal di Betania, kampung Maria dan adiknya Marta.
11:2 Maria ialah perempuan yang pernah meminyaki kaki Tuhan dengan minyak mur dan menyekanya dengan rambutnya. 
11:3 Dan Lazarus yang sakit itu adalah saudaranya. Kedua perempuan itu mengirim kabar kepada Yesus: "Tuhan, dia yang Engkau kasihi, sakit."         
11:4 Ketika Yesus mendengar kabar itu, Ia berkata: "Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan." 
11:5 Yesus memang mengasihi Marta dan kakaknya dan Lazarus.  
Juga dalam Yohanes 12:1-3 yang berbunyi demikian:
12:1 Enam hari sebelum Paskah Yesus datang ke Betania, tempat tinggal Lazarus yang dibangkitkan Yesus dari antara orang mati. 
12:2 Di situ diadakan perjamuan untuk Dia dan Marta melayani, sedang salah seorang yang turut makan dengan Yesus adalah Lazarus. 
12:3 Maka Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau minyak semerbak di seluruh rumah itu.
Firman Tuhan di atas memberikan pengertian bahwa Maria, Marta dan Lazarus adalah tiga bersaudara, namun Alkitab tidak menginformasikan siapa ayah dan ibu mereka.
Tidaklah perlu untuk melacak hal itu, namun yang pasti kita melihat ada tiga bersaudara yang boleh disebut sebagai satu keluarga  yang punya hati melayani Tuhan.  Alkitab menginformasikan beberapa kali bagaimana Maria dan Marta menerima Tuhan Yesus.  Misalnya dalam Injil Lukas 10:38-42 Tuhan Yesus dan murid-muridnya diterima oleh Marta di rumahnya dan Marta melayani Yesus dengan kesibukannya di dapur sedangkan Maria melayani Yesus dengan duduk mendengarkan Yesus.  Kemudian dalam pembacaan nats di atas, Yesus dan murid-murid diterima di Rumah Lazarus di Betania.  Maria, Marta dan Lazarus ambil bagian dalam pelayanan ini sesuai dengan talenta ketiga bersaudara ini.
Maria, Marta dan Lazarus adalah satu keluarga yang melayani Tuhan.  Tiga bersaudara ini yang tidak jelas ayah dan ibu mereka rupanya sudah terpola dalam melayani Tuhan, yaitu dengan melihat dari cara mereka menyambut dan menerima Yesus dan murid-muridnya.  Marta sebagai kakak mengambil bagian dalam pelayanan meja.  Dua kali dicatat hal ini sebagai bukti.   Memang dalam Injil Lukas di sana dicatat bahwa Yesus menegur Marta karena cemburu terhadap Maria yang mengambil pelayanan duduk di kaki Yesus. Itu bukti bahwa Marta memiliki talenta di bidang jasa boga. Sedangkan Maria peka mempersiapkan hari penguburan Yesus.  Jika informasi dari Yohanes ini dihubungkan dengan informasi dari Lukas, dapat disimpulkan bahwa Maria begitu tekun mendengar pengajaran Yesus, sehingga Maria mengerti Firman Allah dan melakukannya sedangkan murid-muridNya sama sekali tidak mengerti.  Itulah sebabnya ketika Maria  mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya, maka Yudas Iskariot tidak setuju dengan persembahan yang diberikan oleh Maria kepada Yesus.  Kemudian kita tengok sejenak Lazarus, apa yang dilakukannya, Lazarus menemani Yesus makan.  Berbicara tentang menemani seseorang makan bukanlah dilihat dari sekedar ada teman, tetapi itu dapat dilihat dari sisi penghormatan, pelayanan dan memperhatikan  kira-kira apa yang dibutuhkan  dan diinginkan oleh  orang yang kita layani.   Dalam hal ini pelayanan Lazarus adalah memperhatikan, dan memberi suasana tenang dan rileks bagi Yesus dan murid-murid dalam santap bersama.
Seperti apakah keluarga yang melayani Tuhan itu? Pertanyaan tadi sudah terjawab.  Keluarga yang melayani Tuhan adalah keluarga yang memberi hati, pikiran hanya kepada Yesus.   Maria, Marta dan Lazarus mengarahkan segenap hati dan pikiran mereka kepada Yesus.   Maria, Marta dan Lazarus tidak gusar ketika Yudas Iskariot mengkritik apa yang diperbuat oleh Maria, justru Yesus membela pelayanan yang dilakukan oleh Maria kepadanya.  Maria, Marta dan Lazarus sebagai satu team yang solid, ketiga bersaudara ini mencintai Yesus dan pelayananNya.  Ketiga bersaudara ini mengerahkan tenaga dan pikirannya untuk melayani Yesus dan hal itu terbukti dari pemanfaatan karunia atau talenta yang ada pada mereka.
Maria, Marta dan Lazarus adalah keluarga yang melayani Tuhan dengan dasar cinta kasih, karena itu mereka tidak kehilangan upah. Upah yang pertama adalah Yohanes 11:5 dikatakan  Yesus memang mengasihi Marta dan kakaknya dan Lazarus. Upah yang kedua adalah Yohanes 11:33-35 di sana dicatat bahwa ketika Yesus melihat Maria menangis karena Lazarus sudah meninggal maka Yesus pun menangis merasakan penderitaan Maria yang dikasihinya.   Artinya, Yesus sangat peduli terhadap orang yang melakukan pelayanan kasih kepadaNya. 
Upah yang ketiga adalah Yesus memberi kebahagiaan yang tiada tara, tiada terukur, dan tiada terbatas yaitu dengan menghidupkan kembali Lazarus adik mereka yang mereka kasihi.  Jadi, keluarga yang melayani Tuhan dengan cinta kasih akan menikmati kebahagiaan yang tiada tara, akan mendapatkan perhatian Tuhan dan akan dikasihi oleh Tuhan.  Sungguh mengharukan ketika kita membaca Yohanes 11:35 yang berkata ”maka menangislah Yesus”.  Kata menangis dalam terjemahan Yunani memiliki pengertian yaitu tersedu-sedu, terisak-isak.  Dari pengertian ini dapat disimpulkan betapa empatinya Yesus kepada Maria, Marta dan Lazarus.
Anda pun akan mendapatkan upah dari Tuhan, Tuhan akan mengasihi Anda, Tuhan akan memberikan kebahagiaan kepada Anda dan Tuhan akan perduli atau empati terhadap masalah Anda.  Oleh karena itu layanilah Tuhan, lakukanlah pekerjaan yang dihadiahkan kepada Anda, maka sikap Yesus yang ditumpahkan kepada Maria, Marta dan Lazarus akan Anda alami, karena Yesus mengasihi orang-orang yang mengasihiNya, jadilah Keluarga yang melayani Tuhan, mulailah melayani suami/isteri anak orang tua dan mertua, baru kemudian lebih meluas ke seluruh dunia.                                                                                                   



Tatkala Kedua Orang Tua Menjadi TKI

Sebuah berita menceritakan bahwa ada dua ekor anak harimau yang ditolak induknya karena lahir albino berhasil menemukan ibu baru yaitu seekor anjing. Kedua anak harimau ini hidup rukun dengan saudara barunya anjing dan menyusu dari induk barunya.  Seekor anjing di Brasil mengasuh dua anak harimau bengali. Ini bukan kisah fiksi. Dokter hewan di Rio de Janeiro, tak lama berselang mengatakan bahwa ini adalah kasus kesekian anjing betina mengasuh hewan lain. Saat ini, anjing dan dua anak harimau itu hidup rukun dan tidak terpisahkan. Dua anak harimau itu menyusu bersama anjing yang baru dilahirkan induk anjing.  Binatang pun membutuhkan kerukunan supaya mereka dapat hidup dan bertumbuh.
Dalam keluarga  kerukunan adalah hal yang tertinggi supaya   setiap anggota rumah tangga dapat saling sapa, saling menyayangi dan saling menolong. Kerukunan rumah tangga dapat memberi inspirasi terhadap kegiatan-kegiatan apa yang akan dilaksanakan dan yang bermanfaat bagi kehidupan rumah tangga. Namun, mengapa sebuah kerukunan rumah tangga sangat langka. Yang banyak terjadi kita lihat kejadian  dalam rumah tangga adalah perselisihan, kecemburuan dan fitnah bahkan perceraian. Dalam Perjanjian Lama banyak kita temukan contoh-contoh dari  keluarga-keluarga yang tidak hidup rukun, seperti Kain dan Habel
Landasan Firman Tuhan diambil dari Mazmur 133:1-3 demikian Firman Tuhan: Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun! Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya.  Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya.
Mazmur ini ditulis oleh Daud.  Daud adalah Raja Israel yang bijaksana dan sangat berhasil dalam kepemimpinannya.  Daud adalah Raja yang hidup berdasarkan pimpinan Tuhan.  Daud adalah seorang Raja berlatar belakang seorang gembala.  Daud memiliki sejuta pengalaman  dalam hidupnya hingga Ia menjadi pemimpin tertinggi di Israel.  Dari pengalaman hidupnya, ia membawa bangsa Israel ke puncak kejayaan melewati banyak konflik, melewati banyak pertentangan, melewati banyak peperangan, pertempuran dan pemberontakan. Masa-masa menghadapi segala pemberontakan, pertempuran  dan peperangan tidaklah memungkinkan Daud dapat hidup tenang dan damai.  Yang ada adalah tangisan, kesedihan, dan kemarahan.  Saya berpikir mazmur ini ditulis berangkat dari pengalaman Daud yang penuh dengan ketidak-nyamanan dalam perjalanan hidupnya.
Daud memulai di ayat pertama dengan berkata, sungguh alangkah baiknya dan indahnya apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun. Apa artinya perkataan ini? Baiklah mari kita kupas kata “diam bersama.”  Diam bersama adalah orang yang tinggal bersama-sama dalam satu tempat, komunitas atau pun negara. Biasanya orang yang diam bersama rawan konflik karena kedekatan  Sebagai contoh kecil  adalah suami istri.  Suami yang diam bersama dengan istri memungkinkan terjadinya penampakan ke permukaan secara jelas dan nyata perbedaan-perbedaan dan kelemahan-kelemahan. Ini merupakan celah untuk terjadinya perpecahan antar suami istri, jika masing-masing tidak melihat keberbedaan itu sebagai suatu kekayaan yang saling mengisi. Perpecahan yang terjadi akan menguras habis waktu dan  energi untuk mengatasinya. 
Berarti selama mengatasi permasalahan perpecahan itu, tentunya kita tidak menikmati kebaikan dan keindahan.  Bukankah kita sering menyaksikan berita-berita miring para artis yang bercerai?  Berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun mereka terjerat dalam masalah itu dan sekaligus menghancurkan rumah tangga dan kariernya. Berdasarkan efek dari perpecahan apakah itu keluarga, gereja, organisasi, masyarakat firman Tuhan menasihati kita supaya diam bersama dengan rukun. Rukun berarti baik dan damai tidak bertengkar dan bersatu hati. 
Saya pernah menyaksikan suami istri, dalam satu bulan terjadi 2 kali pertengkaran.   Jika terjadi pertengkaran, si suami menghancurkan perabot dalam rumahnya, sedangkan si istri minggat dari rumah tentunya menghabiskan uang dan menghambat aktivitasnya bekerja.  Saya perhatikan hidup mereka tidak mengalami kemajuan baik secara ekonomi maupun spiritual. Hari-hari mereka lalui dengan kegersangan dan keputus-asaan. 
Hidup rukun sesungguhnya membawa berkat baik itu bagi masyarakat, gereja dan keluarga.  Raja Daud  dalam Mazmur ini  berkata, Tuhan akan memerintahkan berkat kepada saudara-saudara yang hidup rukun.  Ia menggambarkan berkat itu mengalir seperti minyak yang  baik di atas kepala meleleh ke janggut, seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion.  Artinya setiap orang yang hidup dengan rukun berkat-berkat otomatis mengalir, tidak ada yang dapat menghalangi seperti minyak yang meleleh ke janggut dengan lancar.
Berkat-berkat akan mengalir dalam rumah tangga kita, jika kita sebagai suami istri, orang tua dan anak, anak menantu dengan mertua diam bersama dengan hidup rukun.  Allah akan memberkati pekerjaan suami, Allah akan memberkati sawah ladang kita, Allah akan memberkati toko, perusahaan dan segala pekerjaan yang kita lakukan.   Tebarkanlah kasih di dalam rumah Anda, berikan kasih kepada anak-anak, kepada istri, suami dan juga kepada tetangga.  Jadilah ekspresi hidup dari kebaikan-kebaikan Tuhan, kebaikan hati di wajah Anda, kebaikan hati dalam senyuman Anda.  Maka Rumah Tangga Yang Hidup Rukun adalah merupakan pengalaman manis tiap-tiap detik hidup Anda, dan segala berkat akan mengalir, melimpah meluap dan keluarga Anda menjadi berkat bagi dunia ini.






TKI Dan Perceraian

Yakuza adalah salah satu organisasi kriminal yang ada di Jepang.  Organisasi ini mirip Triad di Cina dan Mafia di Sisilia.  Kebiasaan Yakuza adalah membunuh, merampok dan memeras.  Dan syarat untuk menjadi anggota keluarga Yakuza adalah harus ahli berbuat kejahatan, pembunuh berdarah dingin dan cerdas dalam rupa-rupa kejahatan.  Hampir semua anggota Yakuza mempunyai latar belakang keluarga yang miskin. Sebab itu mereka mencari perlindungan kepada kumpulan Yakuza itu, menjadikan mereka satu keluarga yang besar dengan perasaan selamat untuk terus hidup dalam damai sejahtera.  Namun ada kesaksian seorang Yakuza demikian: ”Dua puluh tahun aku jadi Yakuza, aku jadi bandar narkoba, terlibat hampir semua kejahatan kecuali membunuh dan merampok, aku duduk di posisi yang tinggi dalam salah satu sindikat Yakuza terbesar di Jepang. Aku dibanjiri uang dan aku punya semuanya, kecuali damai sejahtera. Aku selalu merasa ketakutan.” 
Damai sejahtera Allah  tidak dapat ditemukan dalam dunia ini. Manusia boleh-boleh saja mencari harta sebanyak-banyaknya, mencari kekuasaan demi keamanan dan mencari kedudukan untuk kehormatan, tetapi damai sejahtera Allah tidak ada di sana.  Sesungguhnya damai sejahtera Allah itu hanya ada jika Allah memberikannya kepada manusia.  Upaya manusia untuk mencarinya adalah sia-sia, karena ia hanya menemukan imitasi damai sejahtera.  Untuk mengerti dan mengenal damai sejahtera Allah kita belajar dari firman Allah yang terambil dari Yohanes 20:19–23 demikian Firman Tuhan,....
Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!"
Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersuka cita ketika mereka melihat Tuhan. Maka kata Yesus sekali lagi: "Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu." Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: "Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada."
Kita mengetahui bahwa murid-murid sudah menjadi satu keluarga di bawah pimpinan Yesus Kristus.  Para murid dan orang Israel umumnya mengharapkan damai sejahtera yaitu lewat kemerdekaan mereka atas kekuasaan Romawi.  Para murid mengikut Yesus supaya mereka beroleh damai sejahtera, beroleh kemerdekaan, beroleh ketenteraman lewat perjuangan sang pemimpin mereka yaitu Yesus Kristus. Para murid  dalam mengharapkan damai sejahtera itu masih sebatas pemikiran manusiawi.  Para murid belum dapat menangkap damai sejahtera Ilahi, sehingga perjalanan iman para murid masih tertuju kepada Yesus yang adalah manusia.  Ketika Yesus terkapar di kayu salib dan secara manusia tidak dapat berbuat banyak untuk melepaskan dirinya hingga mati di kayu salib, membuat para murid kehilangan harapan, para murid putus asa, para murid ketakutan. Alkitab mencatat  bahwa pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid di suatu tempat dengan pintu-pintu terkunci karena mereka ketakutan terhadap orang-orang Yahudi.
Ketakutan para murid, keputus-asaan mereka teratasi bukan diukur karena sudah tiga tahun mengikut Yesus, namun ketakutan dan keputus-asaan mereka teratasi tatkala lewat anugerah kematian dan kebangkitanNya.  Alkitab mencatat bahwa Yesus hadir di tengah-tengah para murid sementara pintu-pintu terkunci rapat.  Kehadiran Yesus Kristus menganugerahkan kepada para murid yaitu damai sejahtera.  Saudara pendengar, damai sejahtera Yesus diberikan kepada murid-murid, kepada orang pilihanNya, kepada orang yang masuk dalam keluarga Allah.  Artinya kepada orang-orang yang menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan juru selamat.
Apa yang menjadi pergumulan Anda, apakah Anda dalam pencarian damai sejahtera itu namun Anda hanya menemukan imitasi damai sejahtera?  Anda mencari uang, kedudukan, kekuasaan dan semuanya itu Anda dapat, tetapi pada kenyataannya Anda selalu merasa ketakutan seperti yang dialami oleh para murid, atau seperti yang dialami oleh pemimpin Yakuza yang saya ceritakan di atas. Anda takut  dengan masa depan anak-anak, Anda takut dengan masa depan usaha atau pekerjaan Anda, dan Anda pun takut akan ke mana nanti setelah kehidupan ini.   Damai sejahtera Allah itu akan hadir di tengah-tengah kehidupan Anda dan kehidupan keluarga Anda, tatkala Yesus sudah hadir di hidup  saudara, Yesus sudah menjadi Raja dalam hati dan dalam keluarga Anda.  Tatkala Yesus dalam kuasa kebangkitanNya hadir di tengah-tengah para murid, dan Yesus mengingatkan kembali FirmanNya yang sudah pernah Ia ajarkan kepada para murid, maka setelah para murid menyadarinya dan mengingatnya kembali maka Alkitab berkata “bersuka citalah mereka.”  Jadi, sukacita para murid adalah sukacita berdasarkan anugerah damai sejahtera yang bersifat kekal.  Sukacita para murid adalah sukacita berdasarkan Firman Allah yang sudah diterima oleh para murid.  Dan damai sejahtera Allah yang bersumber dari Yesus menembus segala ruang dan waktu.
Di mana pun anda berada, dan dalam situasi apa pun damai sejahtera Allah menembus segala ruang dan waktu. Kehadiran Yesus Kristus di tengah-tengah keluarga Anda merupakan jaminan damai sejahtera dalam rumah tangga Anda.  Untuk itu, sebagai keluarga yang nota bene damai sejahtera itu sudah dianugerahkan oleh Tuhan kepada kita, perlu kita pelihara supaya damai sejahtera itu selalu mewarnai kehidupan rumah tangga kita.  Bagaimana kita memelihara damai sejahtera Allah itu?  Kita dapat memelihara damai sejahtera itu di tengah-tengah keluarga kita dengan menaati perintah-perintahNya.  Firman Tuhan berkata dalam Yesaya 48:18,19  demikian, .... “Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintah-Ku, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering, dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti, maka keturunanmu akan seperti pasir dan anak cucumu seperti kersik banyaknya; nama mereka tidak akan dilenyapkan atau ditiadakan dari hadapan-Ku." Jadi, keluarga Anda akan selalu menikmati damai sejahtera, hidup selalu harmonis antara suami dan istri orang tua dan anak dan anak menantu dengan mertua.  Masing-masing senang hidup berdampingan, masing-masing rindu untuk saling berkomunikasi, masing-masing saling memberi diri untuk melayani dan untuk memberi hormat, karena apa? Karena Firman Tuhan yang ada di dalam hati menuntun untuk melakukan apa yang Allah perintahkan itu dengan penuh kasih.  Damai sejahtera Allah tidak akan pernah beranjak dari tengah-tengah keluarga Anda karena Anda menaati FirmanNya.  

Beda Agama Dalam Pernikahan

Firman Tuhan dalam Kitab Kejadian 2:18 di sana TUHAN Allah berkata: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja.  Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia."  Siapa yang sepadan itu? Kita tentu mengetahuinya bukan? Isterilah  yang dimaksudkan oleh Tuhan.  Berbicara tentang Peran Seorang Ibu Dalam Pembentukan Kepribadian Anak adalah berbicara juga mengenai peran isteri yang menjadi penolong yang sepadan bagi suami dalam menjalankan tugas yang Allah mandatkan kepada manusia.  Dalam Rumah tangga, suami adalah pemimpin dan inisiator bagi terciptanya karakter-karakter yang baik untuk seisi rumahnya.  Apakah dalam rumah tangga itu terdiri dari sanak saudara, anak, isteri bahkan pembantu. Pertanyaan yang mendasar perlu saya ajukan di sini adalah, bagaimana tatkala terjadi bila suami tidak dapat menjalankan fungsinya ataupun telah tiada.
Untuk menjawab pertanyaan ini baiklah kita belajar dari Firman Tuhan yang terambil dari Kitab 2 Raja-raja 22:1–8 demikian Firman Allah;
22:1 Yosia berumur delapan tahun pada waktu ia menjadi raja dan tiga puluh satu tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah Yedida binti Adaya, dari Bozkat.
22:2 Ia melakukan apa yang benar di mata TUHAN dan hidup sama seperti Daud, bapa leluhurnya, dan tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri.
3 Dalam tahun yang kedelapan belas zaman raja Yosia maka raja menyuruh Safan bin Azalya bin Mesulam, panitera itu, ke rumah TUHAN, katanya :
4 "Pergilah kepada imam besar Hilkia; suruhlah ia menyerahkan seluruh uang yang telah dibawa ke dalam rumah TUHAN yang telah dikumpulkan dari pihak rakyat oleh penjaga-penjaga pintu;
5 baiklah itu diberikan mereka ke tangan para pekerja yang diangkat untuk mengawasi rumah TUHAN, supaya diberikan kepada tukang-tukang yang ada di rumah TUHAN untuk memperbaiki kerusakan rumah itu,
6 yaitu kepada tukang-tukang kayu, tukang-tukang bangunan dan tukang-tukang tembok, juga bagi pembelian kayu dan batu pahat untuk memperbaiki rumah itu.
7 Tetapi tidak usahlah mengadakan perhitungan dengan mereka mengenai uang yang diberikan ke tangan mereka, sebab mereka bekerja dengan jujur."
8 Berkatalah imam besar Hilkia, kepada Safan, panitera itu: "Telah kutemukan kitab Taurat itu di rumah TUHAN!" Lalu Hilkia memberikan kitab itu kepada Safan, dan Safan terus membacanya.
Nats tersebut di atas menjelaskan pada kita bahwa Yosia sudah menjadi  Raja dalam usianya yang sesungguhnya belum pantas  untuk menjadi pemimpin dalam suatu kerajaan. Tapi itulah tradisi Kerajaan zaman dahulu, untuk menjadi Raja sebagai pengganti ayah adalah anak, sekalipun itu masih tergolong belia.  Kerajaan merupakan warisan, jadi yang menjadi ahli waris adalah anak Raja.  Tradisi Kerajaan memang sudah demikian di mana saja.  Dinasti Chin misalnya  bahkan Raja-raja di wilayah Indonesia juga demikian, bahwa anak baru usia  belia bisa diangkat menjadi Raja sebagai pewaris kerajaan.  Mungkin yang menjadi pertanyaan lebih tepatnya adalah;  mungkinkah seorang Raja yang masih muda belia berhasil memimpin sebuah kerajaan?  Secara logika jelas tidak.  Untuk itulah mari kita teruskan sejarah Yosia ini. 
Firman Tuhan sebelumnya menjelaskan bahwa Amon adalah Raja Israel sebelum Yosia, dan Amon adalah ayahnya Yosia suaminya Yedida binti Adaya dari Bozkat.  Alkitab berkata bahwa Amon memerintah di Yerusalem sangat singkat yaitu hanya 2 tahun saja.  Amon melakukan yang jahat di mata Tuhan, dan Amon terbunuh di istananya oleh persekongkolan pegawai-pegawainya. Berangkat dari fakta ini, dapdisimpulkan bahwa tidaklah mungkin bagi Amon untuk membina anaknya Yosia agar memiliki kepribadian yang baik, karena ia sendiri jahat.  Kedua, di usianya yang relatif singkat tidaklah mungkin baginya untuk membina Yosia. Jadi, dapat dipastikan bahwa Yedida ibunya Yosia sangat berperan dalam pembentukan kepribadian Yosia.  Mungkin Anda bertanya dalam hati demikian, seseorang dapat membina dengan baik, jika seseorang itu takut akan Tuhan.  Bagaimana dengan Yedida apakah dia adalah seorang yang  takut akan Tuhan? Marilah kita memikirkan tentang nama Yedida.  Yedida dari kata Yadiydah  artinya adalah kekasih atau orang yang dicintai. Orang yang dicintai pada umumnya adalah orang yang berperilaku baik, dan takut akan Tuhan.  Dalam Injil Lukas 2:52, dikatakan bahwa Yesus dikasihi oleh Allah dan dikasihi oleh manusia.  Tentunya sebagai orang yang dikasihi oleh manusia ada alasan yang mendasar untuk itu,  yaitu perilakunya baik.  Alasan berikutnya bahwa Yedida takut akan Tuhan, Alkitab tidak mencatat bahwa Yedida melakukan yang jahat di mata Tuhan, lain halnya dengan Atalya ibunya Ahazya, Alkitab mencatat segala kejahatannya. Kemudian, di dalam Istana Yosia ada  imam Hilkia, Ahikam, dan Akhbor. Para imam ini menunjukkan betapa Istana Yosia dipelihara oleh kebenaran firman Allah. Jika Yedida bukanlah orang yang takut akan Tuhan maka ia akan melenyapkan para imam-imam Tuhan itu, dan tidak membiarkan kebenaran ada dalam kerajaan, karena kebenaran biasanya bertolak belakang dengan hawa nafsu ataupun ego.
Dengan alasan-alasan yang diuraikan di atas, kita yakini bahwa Yedida adalah seorang ibu yang takut akan Tuhan, yang sangat berperan sekali dipakai Tuhan dalam pembentukan karakter anaknya Yosia.  Alkitab berkata, Yosia selama 31 tahun memerintah di Yerusalem melakukan yang benar di mata Tuhan   dan hidup seperti Daud tidak menyimpang ke kanan atau pun kekiri. Pada tahun ke delapan dari pemerintahannya, ketika ia masih muda belia, ia mulai mencari Tuhan. Coba perhatikan bahwa pada usia 8 tahun Yosia menjadi raja, dan pada ke 8 tahun pemerintahannya berarti usia Yosia  16 tahun ia mulai mencari Tuhan.  Berarti kita dapat melihat, bahwa Yedida membina Yosia semenjak dari kandungan hingga ia diangkat menjadi Raja dan lahirnya keinginan dalam hatinya untuk mencari Tuhan. Nilai-nilai kebenaran Firman Tuhan sudah ditanamkan oleh Yedida sehingga Yosia anaknya bertumbuh menjadi orang yang takut akan Tuhan. Yedida berhasil membentuk karakter Yosia sehingga Yosia menjadi Raja yang bijaksana.  Oleh karena peran Yedida seorang ibu yang membentuk kepribadian Yosia, sehingga Alkitab memeteraikan, menuliskan nama Yedida dalam sejarah Alkitab.   Dalam Alkitab, tidak semua ibu disebut namanya.  Bila nama ibu disebut dalam riwayat seorang raja, berarti ibu itu berpengaruh besar terhadap anak, baik itu pengaruh yang positif atau pun pengaruh yang negatif.  Dalam hal ini Yedida memiliki pengaruh yang postif dan ia memiliki andil yang besar dalam kehidupan Yosia.
Jika Anda seorang ibu yang takut akan Tuhan, namun suami Anda sebaliknya atau mungkin suami Anda  telah tiada, tidak perlu berputus-asa.  Anda punya pengaruh yang besar dalam pertumbuhan karakter anak-anak Anda.  Anda punya andil yang besar dalam pembentukan kepribadian anak-anak Anda.  Ukurannya bukanlah tergantung pada suami saja, karena Anda adalah penolong yang sepadan bagi suami Anda.  Tatkala suami Anda alpa dalam pembentukan karakter itu, ingatlah Anda adalah penolong yang sepadan yang berfungsi aktif di mata Tuhan untuk pembentukan kepribadian anak-anak Anda.  Hanya pertanyaannya, adakah Anda adalah orang yang takut akan Tuhan? Seperti Yedida?  Pertanyaan ini sangat penting untuk kasus yang saya sebutkan tadi.  Susana Wesley adalah  seorang ibu yang takut akan Tuhan, dan ia adalah  seorang ibu dari 19 anak  yang berhasil dipakai Tuhan dalam pembentukan karakter anak-anaknya. Dia mendedikasikan semua anak-anaknya kepada Tuhan, dan dia berhasil sehingga kita kenal beberapa anaknya menjadi hamba Tuhan seperti John Wesley. Jadi sesungguhnya ibu sangat berperan dalam pembentukan karakter anak.  




Tuesday, June 24, 2014

Keluarga atau Karir

Antara keluarga dan karir boleh dikatakan sama-sama penting.  Tidak mungkin keluarga dapat terpelihara, kalau tidak ada karir.  Tapi tidak mungkin karir menjadi baik, kalau keluarga tidak terpelihara.  Keberhasilan seseorang dalam karirnya tidak dapat dipisahkan dari keberhasilan keluarga, dan keberhasilan keluarga juga karena keberhasilan bidang  karir.  Yang sering menjadi masalah adalah seseorang rela mengorbankan keluarga demi karir.  Kasus demikian banyak  dialami oleh orang yang kurang pandai mengemudikan kedua hal ini secara seimbang.  Memang sebagian dari antara mereka berkata, walaupun saya seorang karier tetapi saya masih bisa membagi waktu untuk mereka, toh "kualitas pertemuan dengan anak lebih penting dari kuantitas"  Tapi fakta membuktikan bahwa terlalu banyak keluarga terlantar karena pernyataan tadi hanya untuk menghibur hati saja, karena pada akhirnya kebanyakan orang tergoda  memilih karir ketimbang keluarga.  Berikut ini ada sebuah kisah nyata  dari seorang wanita karier yang bernama ibu Melany.    

Saya seorang ibu dengan dua orang anak, mantan direktur sebuah Perusahaan multinasional. Mungkin anda termasuk orang yang menganggap saya orang yang berhasil dalam karir namun, jika seandainya saya boleh memilih maka saya akan berkata kalau lebih baik saya tidak seperti sekarang dan menganggap apa yang saya raih sungguh sia-sia. Semuanya berawal ketika putri saya satu-satunya yang berusia 19 tahun baru saja meninggal karena overdosis narkotika. Sungguh hidup saya hancur berantakan karenanya, suami saya saat ini masih terbaring di rumah sakit karena terkena stroke dan mengalami kelumpuhan karena memikirkan musibah ini. Putera saya satu-satunya juga sempat mengalami depresi berat dan sekarang masih dalam perawatan intensif sebuah klinik kejiwaan, dia juga merasa sangat terpukul dengan kepergian adiknya. Sungguh apa lagi yang bisa saya harapkan. Kepergian Maya dikarenakan dia begitu guncang dengan kepergian Bik Inah pembantu kami. Hingga dia terjerumus dalam pemakaian Narkoba. Mungkin terdengar aneh kepergian seorang pembantu bisa membawa dampak begitu hebat pada putri kami. Harus saya akui bahwa bik Inah sudah seperti keluarga bagi kami, dia  telah ikut bersama kami sejak 20
tahun yang lalu saat Doni masih berumur 2 tahun. Bahkan bagi Maya dan Doni, bik Inah sudah seperti ibu kandungnya sendiri. Ini semua saya ketahui dari buku harian Maya yang saya baca setelah dia meninggal. Maya begitu cemas dengan sakitnya bik Inah, berlembar-lembar buku hariannya berisi hal ini. Dan ketika saya sakit (saya pernah sakit karena kelelahan dan diopname di rumah sakit selama 3 minggu) Maya hanya menulis singkat sebuah kalimat di buku hariannya "Hari ini Mama sakit di Rumah sakit" , hanya itu saja. Sungguh hal ini menjadikan saya semakin terpukul. Tapi saya akui ini semua karena kesalahan saya. Begitu sedikitnya waktu saya untuk Doni, Maya dan suami saya. Waktu saya habis di kantor, otak saya lebih banyak berpikir tentang keadaan perusahaan dari pada keadaan mereka. Berangkat jam 07:00 dan pulang di rumah 12 jam kemudian, bahkan mungkin lebih. Ketika sudah sampai rumah rasanya sudah begitu capai untuk memikirkan urusan mereka.  Memang setiap hari libur kami gunakan untuk acara keluarga, namun sepertinya itu hanya seremonial dan rutinitas saja, ketika hari Senin tiba saya dan suami sudah seperti "robot" yang terprogram untuk urusan kantor. Sebenarnya ibu saya sudah berkali-kali mengingatkan saya untuk berhenti bekerja sejak Doni masuk SMA namun selalu saya tolak, saya anggap ibu terlalu kuno cara berpikirnya. Memang Ibu saya memutuskan berhenti bekerja dan memilih membesarkan kami enam orang anaknya.
Padahal sebagai seorang sarjana ekonomi karir ibu waktu itu katanya sangat baik. Dan ayah pun ketika itu juga biasa-biasa saja dari segi karir dan penghasilan. Meski jujur saya pernah berpikir untuk memutuskan berhenti bekerja dan mau mengurus Doni dan Maya, namun selalu saja perasaan bagaimana kebutuhan hidup bisa terpenuhi kalau berhenti bekerja, dan lalu apa gunanya saya sekolah tinggi-tinggi? Meski sebenarnya suami saya juga seorang yang cukup mapan dalam karirnya dan penghasilan. Dan biasanya setelah ada nasehat ibu saya menjadi lebih perhatian pada Doni dan Maya namun tidak lebih dari dua minggu semuanya kembali seperti asal urusan kantor dan karir fokus saya. Dan kembali saya menganggap saya masih bisa membagi waktu untuk mereka, "kualitas pertemuan dengan anak lebih penting dari kuantitas" selalu menjadi patokan saya. Sampai akhirnya semua terjadi dan di luar kendali saya dan berjalan begitu cepat sebelum saya sempat tersadar. Maya berubah dari anak yang begitu manis menjadi pemakai Narkoba. Dan saya tidak mengetahuinya! Ditambah lagi, Bik Inah tiba-tiba jatuh sakit kurang lebih dua minggu, bik Inah akhirnya meninggal dunia di Rumah Sakit. Dari buku harian Maya saya juga baru tahu kenapa Doni malah pergi dari rumah ketika bik Inah di Rumah Sakit. Memang Doni pernah memohon pada ayahnya agar bik Inah dibawa ke Singapore untuk berobat setelah dokter di sini mengatakan bahwa bik Inah sudah masuk stadium 4 kankernya. Dan usul Doni kami tolak hingga dia begitu marah pada kami. Dari sini saya kini tahu betapa berartinya bik Inah buat mereka, sudah seperti ibu kandungnya, menggantikan tempat saya yang seolah hanya bertugas melahirkan mereka saja ke dunia. Tragis! Setelah bik Inah meningga, Maya begitu terguncang dan shock, kami sempat merisaukannya dan membawanya ke psikolog ternama di Jakarta. Namun sebatas itu yang kami lakukan setelah itu saya kembali berkutat dengan urusan kantor. Dan di halaman buku harian Maya penyesalan dan air mata tercurah, Maya menulis : "Ya Tuhan kenapa bik Inah meninggalkan Maya, terus siapa yang bangunin Maya, siapa yang nyiapin sarapan Maya, siapa yang nyambut Maya kalau pulang sekolah, siapa yang ngingetin Maya buat berdoa, siapa yang Maya cerita kalau lagi kesel di sekolah, siapa yang nemenin Maya kalo nggak bisa tidur..........Ya Tuhan Maya kangen banget sama bik Inah" bukankah itu seharusnya tugas saya sebagai ibunya, bukan bik Inah? Sungguh hancur hati saya membaca itu semua, namun semuanya sudah terlambat tidak mungkin bisa kembali, seandainya semua bisa berputar ke belakang saya rela berkorban apa saja untuk itu.


Kesaksian ibu Melany ini kiranya dapat membangunkan Anda yang sedang tertidur dalam karir kemudian memperbaiki diri.  Untuk apalah dunia ini Anda genggam namun keluarga Anda hancur berkeping-keping.  Jika kelurga Anda goncang saat ini karena karir, cepatlah selamatkan keluargamu. Carilah Tuhan supaya Anda diberikan petunjuk bagaimana menyelamatkan bahtera rumah tangga Anda.  Firman Tuhan dalam Injil Matius 6:33 berkata, carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya akan ditambahkan kepadamu.   Dengan petunjuk Allah, maka Anda akan diberikan hikmat untuk mengemudikan karir dan keluarga Anda.

Mengkritik Kesalahan Anak

Ada satu cerita tentang orang tua yang selalu mengkritik kesalahan anaknya.  Seorang anak bernama  Andi, berusia delapan tahun, ia disuruh ibunya membuat surat terimakasih kepada neneknya.  Setelah selesai, Ibunya meminta agar diperlihatkan kepadanya surat itu.  Dengan enggan Andi menyodorkan surat itu kepada ibunya. Wow, Andi, betapa jelek tulisanmu. Mengapa kamu tidak bisa menulis dengan lurus? Ada tiga kata yang salah tulis. Ini dia.  Perbaiki.  Kamu tidak bisa mengirim surat yang penuh kesalahan seperti ini kepada nenekmu.  Kemudian Ibunya membetulkan kata yang salah tulis tadi dan Andi mulai menulisnya lagi.  Namun Andi tetap saja membuat lebih banyak lagi kesalahan, membuang lembar demi lembar surat karena salah, sampai akhirnya Andi menangis dan membanting fulpennya ke lantai. Kemudian berkata: Saya tidak bisa membetulkannya, Bu!  Kemudian ibunya menimpali, masa nulis saja tidak becus ayoh nanti kamu perbaki lagi ya?  Kemudian pada hari-hari yang lain juga  Andi sedang belajar bagaimana mencuci gelasnya sendiri, ia ambil sabun dan mencoba mencuci gelasnya.  Pada waktu Andi mengangkat gelas dan menaruh buih sabun, kemudian gelas dari tangan Andi terjatuh ke lantai lalu pecah berkeping-keping.  Dari ruang tamu Ibu Andi mendengar lalu beranjak menghampiri Andi ke dapur.  Ibu Andi tersentak melihat pecahan beling gelas.  Ibu Andi berkata, Andi, bagaimana sih sampai memecahkan gelas itu, coba lihat karena ulahmu beling gelas itu berhamburan. Lain kali kalau nyuci gelas jangan dibanting  ya? Sana ke ruang tamu, biar ibu beresin pecahan beling itu.

Penekanan kita pada kesalahan anak sangat membahayakan.  Saya pikir, kesalahan Andi bisa membuat neneknya senang, karena ditulis dengan kepolosan dan keterbatasan seorang anak kecil.  Dan bagi Andi menulis surat demikian merupakan kesenangan sendiri karena ia bebas dan percaya diri berkreasi.  Tetapi tatkala ibunya menunjukkan kesalahannya, si ibu mengalihkan perhatiannya dari yang positif ke hal yang negatif.  Andi menjadi takut membuat kesalahan. Ketakutan itu menguasai diri Andi sehingga  malah membuatnya semakin banyak melakukan kesalahan.  Akhirnya Andi menjadi putus asa lalu menangis.  Andi tidak bergairah, dan merasa tidak dihargai sama sekali.  Peristiwa mencuci gelas tadi juga pasti membuat Andi tidak bergairah dalam berkreativitas.  Andi bermaksud mencuci gelas, ibunya menuduhnya membanting gelas. Apalah arti sebuah gelas, ketimbang kreativitas anak terbunuh.  

Jika anda fokus pada kesalahan anak, mencecar dengan kritikan maka itulah awal bencana bagi anak-anak Anda.

Allah tidak fokus kepada kesalahan manusia, Allah tidak berusaha membredel kesalahan-kesalahan manusia, tetapi Allah  fokus kepada perubahan, perbaikan atau pertobatan manusia.  Ketika Adam melakukan kesalahan di Taman Firdaus,  Allah datang mencarinya kemudian mencari tahu mengapa mereka takut?  Setelah Allah mendapatkan penjelasan dari Adam dan Hawa bahwa mereka melakukan kesalahan, apa yang diperbuat Allah? TUHAN Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan untuk isterinya itu, lalu mengenakannya kepada mereka.  Dari firman Tuhan ini, kita dapat membuktikan bahwa Allah fokus kepada perbaikan, pertobatan, bukan pada kesalahan.  Dalam Perjanjian Baru, Yesus pun tidak mengkritik kesalahan anak-anaknya.  Yesus fokus kepada perbaikan dan pertobatan.
Ketika  ahli-ahli Taurat  membawa kepada Yesus seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah, dan menempatkan perempuan itu di tengah-tengah untuk dihakimi, apa pendapat Yesus? Apakah Yesus fokus kepada kesalahan perempuan tersebut?  Ternyata tidak.  Yohanes 8:10-11 berkata,   "Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?" Jawabnya: "Tidak ada, Tuhan." Lalu kata Yesus: "Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang."

Seandainya Allah fokus kepada kesalahan manusia, maka Allah akan banyak menjumpai manusia yang tidak bergairah dan yang putus asa. Dan  tidak seorang pun manusia yang dapat hidup dalam perbaikan dan kebenaran.  Demikian halnya dengan Anda sebagai orang tua.  Kalau Anda fokus kepada kesalahan anak-anak Anda, dipastikan  anak-anak Anda tidak akan bertumbuh dalam pengetahuan, kebajikan dan kebenaran, melainkan mereka akan menjadi orang yang  mudah frustrasi. Mengapa? Karena  anak mendapat kesan bahwa jika ia tidak melakukan sesuatu secara sempurna ia tidak punya nilai apa-apa.

Semua kita membuat kesalahan, dan dari kesalahan demi kesalahan kita menyempurnakan diri. Sebab itu janganlah selalu mengkritik kesalahan anak-anak Anda, tetapi biarkanlah ia belajar dari kesalahan itu untuk memperbaiki diri.  Mari kita berdoa, Tuhan, ajarlah kami untuk membangun kepribadian anak-anak kami.  Tolong kami supaya tidak fokus kepada kesalahan anak-anak kami, supaya kami tidak menuntut kesempurnaan anak-anak kami. Biarlah  kami lebih focus kepada perbaikan  dan pertumbuhan anak-anak kami. Terima kasih, dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.